Namun, jika astronaut benar-benar tidak bisa mengubah posturnya sama sekali, Dewan Fatwa Nasional menyarankan untuk menggunakan kelopak mata sebagai indikator perubahan postur selama salat atau bahkan sekadar membayangkan urutan salat.

Cara Berpuasa Di Luar Angkasa

Dewan Fatwa Nasional Malaysia menyebut puasa bisa dilakukan di ISS atau melakukan puasa qada’ (kompensasi) di bumi (selama bulan Ramadhan).

Waktu untuk berpuasa disesuaikan dengan zona waktu dari lokasi keberangkatan astronot.

Pernyataan tersebut kembali dijelaskan oleh mantan Menteri Sains Malaysia, Jamaluddin Jarjis, yang berkata kepada Space.com, 24 September 2007, bahwa Shukor diperbolehkan untuk mengundur puasanya hingga kembali ke bumi.

Seperti dilansir Liputan6.com, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan para astronot yang ingin berpuasa memang harus mengambil jam puasa yang ada di bumi.

"Ya kalau mereka memang ingin berpuasa, mereka harus merujuk pada waktu (puasa) yang ada di bumi, tepatnya waktu lokasi peluncuran atau keberangkatan mereka," ujar Thomas via pesan teks.

Walau demikian, Thomas berkata astronaut seyogyanya disamakan dengan musafir.

Jadi, bisa saja mereka tidak berpuasa di luar angkasa, tetapi harus menggantinya saat nanti mendarat di bumi.

Belum lagi, lanjutnya, waktu siang dan malam di luar angkasa sangat berbeda dengan di bumi.

Perubahan waktu ini juga diatur beberapa kali di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS, International Space Station).

"ISS itu mengorbit Bumi 14 kali satu hari, siang dan malam, itu setiap 90 menit. Makanya waktunya berbeda," pungkasnya. (brs/berbagai sumber)

Editor: Yayu Fathilal