Seperti halnya Pangeran Sultan, ia berangkat dari Florida, Amerika Serikat dalam misinya di tahun 1985, maka ia mengikuti waktu salat dan berpuasa di kota tersebut selama perjalanan.

Astronot saat di luar angkasa. Foto: Unsplash

Cara Pangeran Sultan kemudian ditetapkan menjadi standar dalam konferensi Badan Antariksa Malaysia (ANGKASA) pada tahun 2006.

Diskusi tersebut membuahkan buku panduan berjudul A Guideline of Performing Ibadah (worship) at the International Space Station (ISS).

Semua hal yang berkaitan dengan ibadah umat Islam di luar angkasa telah diatur di sana.

Dewan Fatwa Nasional Malaysia menerbitkan buku panduan untuk beribadah di ISS.

Untuk soal salat, Dewan Fatwa Nasional Malaysia juga berkata bahwa durasi 24 jam-nya harus disesuaikan dengan zona waktu lokasi keberangkatan astronot.

Jika arah Kabah di Mekkah sulit untuk ditentukan, astronot bisa menggunakan gambar Kabah atau bumi sebagai kiblat.

Lalu untuk wudhu, astronot bisa menggunakan tisu atau handuk basah yang disediakan di ISS.

“Bentuk postur tubuh (seperti berdiri, membungkuk, dan berlutut) disesuaikan dengan kondisi di ISS,” tulis Dewan Fatwa Nasional Malaysia.

Terdapat empat opsi untuk menentukan arah kiblat di luar angkasa, yaitu:

  • Jika bisa menemukan arahnya, menghadaplah ke arah Kabah di bumi
  • Jika tak bisa menemukan arah Kakbah/kiblat di bumi, maka menghadaplah ke arah proyeksi Kabah di langit atau menghadap ke arah Bumi tanpa mempertimbangkan arah Kabah ataupun Mekah, bisa juga dengan menghadap ke mana saja.

Keringanan tersebut diberikan kepada astronot karena hampir tak mungkin untuk menemukan arah yang pas.

Hal ini juga sesuai dengan prinsip agama Islam yang tidak ingin menyulitkan umatnya, apalagi dalam kondisi yang tidak memungkinkan seperti itu.

Jika astronot tidak bisa berdiri tegak, bisa mencoba untuk berdiri dengan postur apa pun.

Bila masih kesulitan, boleh duduk dan membungkuk dengan mendekatkan dagu ke lutut atau tempat berlutut.