Karhutla Kalsel, Operasi OMC Disiagakan hingga 10 November
Dalam skema operasional di lapangan, Fikri menegaskan sebaran titik hotspot menjadi acuan utama tim satgas untuk menentukan sasaran penyemaian awan.
Tim satgas menetapkan tiga tingkatan prioritas penerbangan agar dampak curahan hujan tepat sasaran.
”Prioritas pertama menyemai awan tepat di atas hotspot. Kalau tidak ada, strategi kedua kita semai di sekitaran hotspot,” terangnya.
”Jika di sekitar hotspot juga tidak ada awan, baru kita terbangkan ke seluruh wilayah Kalsel untuk masyarakat umum agar ketersediaan air tetap terjaga,” tambahnya.
Membaiknya kondisi atmosfer Kalsel juga didorong oleh pergerakan dinamika cuaca yang mulai memasuki transisi kemarau menuju musim hujan.
BMKG memprediksi awal musim hujan di Kalsel dimulai bertahap dari wilayah utara pada November dasarian pertama, lalu merambat ke wilayah selatan pada Desember dasarian pertama.
Kondisi lapangan yang semakin terkendali memicu Satgas Pusat melakukan penyesuaian dengan mengurangi jumlah armada pesawat militer TNI AU di Kalsel.
Fikri membeberkan kekuatan armada TNI AU yang sebelumnya disiagakan 5 unit kini dipangkas dan diredistribusi ke daerah lain.
”Per hari ini armada TNI AU bergeser dari 5 tinggal 1 pesawat. Hercules balik homebase ke Jakarta, CN295 pindah ke Sultra di Kendari, satu Cassa balik homebase, dan satu Cassa lagi pindah ke Palangka Raya,” jelasnya.
Meskipun beberapa armada ditarik, Fikri menegaskan operasi OMC di Kalsel dipastikan tetap disiagakan hingga seminggu ke depan atau sekitar 10 November 2026 menggunakan pesawat mitra BNPB jenis Caravan dan Pilatus.
”Operasi diperkirakan berlanjut seminggu ke depan sambil evaluasi atmosfer. Apabila sudah banyak hujan dan hotspot hampir zero, baru kita cukupkan,” pungkasnya. (wartabanjar.com)