Program ini berjalan berdampingan dengan program serupa yang dikelola oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kalsel yang memiliki cakupan lebih luas dari sisi infrastruktur kawasan.

​Kendati demikian, tantangan di lapangan tidaklah kecil. 

Di tengah dinamika perekonomian dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada lonjakan harga material bangunan, Dinsos Kalsel berupaya keras untuk menyesuaikan besaran bantuan agar renovasi benar-benar tuntas.

​"Tahun kemarin cuma Rp25 juta per rumah. Nah, tahun depan mudah-mudahan dapat disetujui, itu kita tingkatkan menjadi Rp35 juta. Karena dengan kondisi perekonomian kita, semua harga barang sudah naik, termasuk bahan bangunan," ujar Farhanie.

​Peningkatan alokasi anggaran ini dinilai sangat krusial agar kualitas bangunan hasil renovasi memiliki daya tahan yang lebih baik dan benar-benar memenuhi standar kesehatan serta keselamatan hunian.

​Agar program Aladin tepat sasaran dan dirasakan oleh warga yang benar-benar berhak, Dinsos Kalsel menerapkan prosedur verifikasi berlapis. 

Pemerintah daerah tidak bekerja sendiri, melainkan mengandalkan integrasi data melalui Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) serta berkoordinasi erat dengan operator di tingkat desa dan kelurahan.

​Proses pengusulan dimulai dari bawah, di mana Dinsos Kabupaten/Kota melakukan asesmen langsung terhadap kondisi riil di lapangan. 

Petugas diwajibkan melakukan cross-check data dengan bukti dokumentasi yang akurat untuk memastikan bahwa calon penerima adalah warga di desil bawah yang memenuhi kriteria.

​"Jangan sampai rumahnya rumah tetangga nih yang difoto, kan? Makanya kita perlu cek ke lapangan, memang betulkah rumah yang akan kita bedah ini rumah si A dan bagaimana kondisinya? Kalau sudah kita cek dan asesmen, baru kita lakukan sesuai peraturan yang berlaku," kata Farhanie.  

​Keberhasilan program bedah rumah Aladin, ditegaskannya, tidak hanya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan dunia usaha, akademisi, komunitas, serta partisipasi aktif masyarakat sekitar.