Petani Diminta Waspada Musim Hujan, Kalsel Surplus Produksi Padi 1,168 Juta Ton hingga Oktober
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat surplus produksi padi mencapai 1.168.000 ton hingga akhir Oktober 2026.
Capaian tersebut sedikit di bawah surplus produksi tahun 2025 yang mencapai 1.179.000 ton.
Hal itu disampaikan Kepala DPKP Provinsi Kalimantan Selatan, Ir. H. Syamsir Rahman, M.S., seusai menghadiri peringatan Hari Pangan Sedunia melalui program Gerakan Pangan Murah di Kantor DKP3 Kota Banjarbaru, Selasa (3/11/2026).
Syamsir mengatakan, pihaknya masih optimistis surplus produksi padi tahun ini dapat menyamai capaian tahun sebelumnya.
Pasalnya, masih ada potensi panen selama November 2026, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Menurutnya, kondisi geografis HSU memberikan keuntungan tersendiri bagi petani.
Saat musim kemarau, lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal karena air yang tersedia digunakan untuk kebutuhan penanaman padi.
Ia juga mengapresiasi pemerintah daerah dan para petani di HSU yang terus mengoptimalkan kegiatan panen.
Baca Juga Cara dan Kronologi Eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Sadap Presiden, Politisi dan Jurnalis
Baca Juga 9 Dapur MBG di Tanah Laut Kembali Beroperasi Usai Rampungkan Administrasi BGN
Meski demikian, Syamsir mengingatkan petani agar memperhatikan kondisi cuaca dan tidak terburu-buru melakukan penanaman menjelang musim hujan.
Ia meminta petani di wilayah dataran rendah dan kawasan rawa menunda penanaman hingga kondisi air mulai surut.
Hal ini untuk menghindari risiko tanaman terendam apabila debit air meningkat.
"Kami berharap kepada petani semua jangan langsung tanam, tetapi biarkan dulu. Setelah air mulai surut baru kita tanam," ujarnya.
Syamsir menyarankan penundaan masa tanam sekitar setengah bulan hingga satu bulan, terutama di wilayah yang rawan tergenang.
Sementara itu, petani di kawasan dataran tinggi dipersilakan tetap melakukan penanaman karena relatif lebih aman dari ancaman genangan air.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Syamsir meminta pemerintah kabupaten dan kota serta para penyuluh pertanian aktif memberikan pendampingan dan arahan kepada petani sesuai karakteristik wilayah masing-masing.