"Tidak mudah meninggalkan institusi yang pernah menjadi bagian dari hidup dan pengabdian. Namun, lebih menyakitkan jika harus bertahan dalam tatanan yang tak lagi sejalan dengan hati Nurani"

"Saya tidak pergi karena kehilangan keberanian, tetapi karena saya tidak ingin kehilangan prinsip. Saya tidak takut melepaskan jabatan, tetapi saya takut mengkhianati kebenaran yang saya Yakini"

"Seragam bisa ditanggalkan, jabatan bisa ditinggalkan, tetapi harga diri dan hati nurani tidak boleh diperjualbelikan"

"Saya memilih mundur dengan luka, daripada bertahan dengan mengorbankan prinsip"

"Sebab pengabdian sejati bukan sekadar tentang di mana kita berdiri, melainkan tentang nilai apa yang tetap kita pertahankan."

AKBP Netty merupakan perwira menengah Polri dengan latar belakang pendidikan di bidang hukum dan manajemen. 

Ia menyandang gelar Sarjana Hukum (SH), Magister Manajemen (MM), Magister Hukum (MH), serta doktor Ilmu Hukum dari Universitas Sriwijaya (Unsri) dengan predikat cumlaude.

Netty pernah mengemban sejumlah jabatan strategis di lingkungan Polda Metro Jaya. 

Dia tercatat pernah menjabat Kapolsek Sunda Kelapa pada 2018 dan Kapolsek Metro Menteng, Jakarta Pusat.

Netty juga pernah bertugas sebagai Penyidik Madya 2 Ditreskrimsus Polda Metro Jaya sejak September 2022. 

Dia kemudian mengemban jabatan Kabagrenmin, sebelum bertugas di Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Selain berpengalaman di bidang reserse dan kewilayahan, Netty memiliki rekam jejak di satuan lalu lintas karena pernah menjabat Kepala Unit Brigadir Motor Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya.

Pada 2005, Netty turut membidani terbentuknya komunitas motor khusus Polwan pengawal kenegaraan bernama The Road Force Blue. 

Kelompok tersebut kemudian meraih rekor MURI dan rekor dunia pada 2009 sebagai pasukan wanita pengawal kenegaraan pertama di dunia.

The Road Force Blue pernah dipercaya mengawal sejumlah agenda kenegaraan. Di antaranya, mendampingi Ibu Negara mendiang Ani Yudhoyono dalam konvoi Hari Kartini pada 2011, mengawal kunjungan Menlu AS Hillary Clinton, hingga prosesi pengawalan jenazah Hasri Ainun Habibie.