"Belum, belum. Masih mampu kita mengatasi," kata Dudung Abdurachman dikutip dari kanal YouTube KompasTV.

Diungkapkan Dudung, terdapat enam provinsi yang menjadi konsentrasi penanganan karhutla.

Dari enam provinsi itu, Kalteng dan Sumsel mendapat perhatian khusus. 

Diakui Dudung, kondisi di lapangan membuat upaya pemadaman di sejumlah lokasi tidak mudah dilakukan.

Selain akses yang terbatas, keberadaan satwa liar juga menjadi pertimbangan dalam menentukan metode penanganan kebakaran.

Operasi pemadaman Karhutla saat ini lebih banyak mengandalkan penanganan dari darat. 

Operasi udara menggunakan helikopter tetap dilakukan, tetapi menghadapi kendala akibat asap yang terlalu tebal.

Di sisi lain, kendaraan darat dan alat berat juga tidak dapat menjangkau seluruh lokasi, terutama kawasan dengan medan yang sulit.

Selain operasi pemadaman, pemerintah berencana membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional.

Dudung berharap badan tersebut dapat segera dilantik sehingga upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan gambut serta mangrove dapat diperkuat.

“Mudah-mudahan minggu depan bisa dilantik,” ujar Dudung.

Dudung menegaskan bahwa Presiden Prabowo meminta penanganan karhutla diselesaikan secepat mungkin.

Pemerintah terus mengoptimalkan operasi pemadaman sekaligus memperkuat langkah pencegahan.

Mengenai tawaran bantuan dari negara lain, Dudung mengatakan hal tersebut belum dibahas dalam rapat.

Ia menyebut memang ada  tanggapan dari negara lain terkait Karhutla dan asap, tetapi ditegaskan pemerintah terus memaksimalkan penanganan di dalam negeri.

Fokus pemerintah saat ini masih mencakup pemadaman di wilayah prioritas, rotasi personel, mitigasi berbasis daerah, serta penguatan pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang. (wartabanjar.com