​WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Lanskap media sosial kini tak lagi sekadar tempat berbagi momen kasual, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang industri kreatif yang menuntut profesionalisme, integritas, dan strategi komunikasi yang matang.

​Menghadapi derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Medsos Consultant sekaligus jurnalis Pelaihari, Dede Rahman atau yang akrab disapa Bang Dede, membagikan wawasannya mengenai fondasi penting dalam membangun karier sebagai kreator konten yang bernilai dan tepercaya.

​Hal tersebut disampaikannya kepada Wartabanjar.com, saat membeberkan pandangannya mengenai dinamika perkembangan media sosial di Pelaihari, Selasa (13/10/2026).

​Menurut pengelola akun Instagram @jurnaliskalsel tersebut, kemudahan ekosistem digital saat ini tidak otomatis menjamin sebuah konten memiliki daya pikat dan dampak yang bertahan lama di tengah publik.

​Ia menegaskan, popularitas instan lewat konten viral hanyalah permukaan, sementara pilar utamanya terletak pada kedalaman perspektif, riset fakta, pemahaman data analitis, serta tanggung jawab moral kepada para pengikut.

​“Menjadi konten kreator bukan hanya soal membuat video yang menarik atau mengejar jumlah penonton. Kreator juga harus memiliki sudut pandang, memahami siapa audiensnya, dan memastikan informasi yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Baca Juga: Status PD Baratala Jadi Perseroda, Pemkab Tanah Laut Suntik Modal Rp6 Miliar dan Perluas Bisnis

Baca Juga: Wakapolres Tanah Laut Peringatkan Anggota Soal Asal Unggah Pamer Gaya Hidup di Medsos

​Dalam pandangannya, sudut pandang unik dan relevan adalah pembeda utama antara pembuat konten profesional, dengan sekadar pengunggah video biasa.

Cerita yang dikemas dari realitas sehari-hari masyarakat, sering kali jauh lebih berkesan jika dibawakan dengan narasi, yang otentik dan memiliki nilai literasi yang kuat.

​Selain faktor kreativitas naratif, integritas data dan kecermatan verifikasi menjadi batasan tegas yang tidak boleh dilanggar, terutama bagi kreator yang sering mengulas isu publik maupun pemberitaan.

​Kecepatan membagikan kabar tidak boleh mengorbankan akurasi, sebab satu kekeliruan informasi dapat meruntuhkan kredibilitas yang telah dibangun dalam jangka panjang.