Sikapi Keresahan Masyarakat, DPRD Kota Banjarmasin Desak BPS Jelaskan Metodologi Desil
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Keresahan terjadi di masyarakat terkait pengunaan Desil untuk menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat.
Desil adalah metode pengelompokan data atau masyarakat menjadi 10 bagian yang sama besar berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi.
Masyarakat juga bertambah bingung dengan munculnya berita-berita tentang adanya pengenaan Desil yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang sesungguhnya.
Kondisi ini menjadi pertanyaan bagi masyarakat karena Desil disebut-sebut sebagai dasar pemberian bantuan sosial.
Menjawab berbagai keresahan masyarakat terhadap metodologi atau cara yang digunakan dalam penyusunan Desil, DPRD Kota Banjarmasin mengundang BPS (Badan Pusat Statistik) setempat dan instansi terkait, Selasa (8/9/2026) lalu.
Pertemuan ini guna mendapatkan secara jelas dari BPS agar tidak terjadi kesalahapahman mengenai Desil.
Baca Juga: Dibuka Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Banggar Bahas Finalisasi RAPBD Perubahan 2026
Baca Juga: Sengketa di Gang Makmur Basirih dapat Perhatian Khusus DPRD Kota Banjarmasin
Seusai pertemuan, Ketua Komisi I DPRD Kota Banjarmasin Aliansyah menegaskan, desil bukanlah alat untuk menentukan seseorang mendapat bantuan atau tidak, namun nanti akan dilihat langsung sesuai keadaan terkini.
“Desil itu bukan alat untuk menentukan seseorang mendapat bantuan atau tidak. Desil merupakan pengelompokan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Jadi, kalau ada petugas datang, jangan takut. Setelah dijelaskan apa yang ditanyakan, jawab saja sesuai kondisi sebenarnya,” katanya.
Sementara Kepala BPS Kota Banjarmasin Sukma Handayani menjelaskan, perubahan desil tidak selalu berarti kondisi ekonomi keluarga yang bersangkutan berubah.
Posisi desil juga dipengaruhi kondisi keluarga lain setelah dilakukan pemutakhiran data.
Misalnya, ada keluarga yang kondisinya relatif tetap. Namun, di sisi lain, ada keluarga yang sebelumnya memiliki kondisi ekonomi lebih baik, mengalami musibah, seperti kebakaran atau kepala keluarga terkena stroke.
“Bisa saja keluarga tersebut tidak mengalami perubahan, tetapi keluarga yang lain mengalami perubahan. Karena itu, ketika data diperbarui, posisi desilnya bisa ikut berubah,” katanya.