Wamenko Pangan Hanif Soroti Ancaman El Nino dan Krisis Air Saat Karhutla Landa Kalsel
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., mengunjungi Posko Satgas Karhutla di kawasan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (4/9/2026).
Kunjungan ini dilakukan untuk mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berjalan selama 14 hari di Kalsel.
Hanif menilai penanganan karhutla di Kalsel sudah dilakukan secara sistematis. Namun, ia meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan pemadaman dan operasi modifikasi cuaca.
Menurutnya, karhutla yang berulang setiap tahun harus diantisipasi melalui sistem pencegahan permanen berbasis ilmu pengetahuan.
“Musim panas dan El Nino tidak boleh kita jadikan takdir untuk kemudian membiarkan atau merelakan terjadinya karhutla,” tegas Hanif.
Hanif mengingatkan kondisi iklim saat ini menjadi alarm serius. El Nino yang menguat dan kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi membuat curah hujan semakin rendah.
Di sisi lain, ketersediaan air untuk penanganan karhutla juga semakin mengkhawatirkan.
Dalam rakor disebutkan muka air di Karang Intan turun sekitar 4 sentimeter dalam 10 hari. Sedangkan permukaan Waduk Riam Kanan disebut turun sekitar 2,5 sentimeter setiap hari.
Baca Juga Isu Air Hujan Berbahaya Akibat OMC, BMKG Sebut Hoax
Baca Juga Usai Hantam Pakai Martil dan Bakar Jenazah Kekasih, Pekerja Bangunan Ini Sembunyi di Kos
“Kita tidak boleh lagi membiarkan masyarakat yang sudah terpapar asap, kemudian air tidak ada,” ujarnya.
Teknologi Pinpoint Deteksi Api di Bawah Gambut
Salah satu langkah berbasis teknologi yang didorong adalah penggunaan pinpoint untuk mendeteksi panas di bawah permukaan gambut.
Teknologi ini dinilai penting karena api gambut dapat tetap membara meski api di permukaan sudah dipadamkan.
Hanif juga mengungkapkan adanya uji coba formula berbahan turunan CPO dan surfaktan yang diharapkan mampu menghemat penggunaan air hingga sekitar 50 persen.
Selain pemadaman, Hanif menyoroti komunikasi pemerintah kepada masyarakat.
Berdasarkan kajian Diskominfo Kalsel yang disampaikannya, sentimen negatif terhadap penanganan karhutla masih mencapai sekitar 68 persen.