Bekantan di Banua Kepayang HST Mati Setelah Sempat Kritis Selama 5 Jam
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Seekor bekantan betina yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi sakit di Desa Banua Kepayang, Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, tidak dapat bertahan setelah sempat mendapat penanganan dari petugas.
Kepala Dinas Pertanian HST melalui Dokter Hewan Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian HST, drh. Bayu Rakhmat M, membenarkan kondisi terbaru bekantan tersebut saat dikonfirmasi wartabanjar.com, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, bekantan itu sempat menjalani pemeriksaan dan berada dalam kondisi kritis selama kurang lebih lima jam.
“Kondisinya memang sudah kritis. Setelah dilakukan pemeriksaan, bekantan tersebut kurang lebih lima jam dalam kondisi kritis dan tidak dapat bertahan,” kata Bayu.
Sebelumnya, bekantan tersebut ditemukan warga di kawasan semak-semak Desa Banua Kepayang pada Rabu (26/8/2026).
Saat ditemukan, kondisi satwa endemik Kalimantan itu sudah terlihat tidak sehat, kemudian mendapat penanganan dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian HST.
Bayu mengatakan, informasi dari tim yang melakukan penyelamatan juga menunjukkan kondisi bekantan memang sudah kurang baik sejak pertama kali ditemukan.
Baca Juga Anak-anak Mengamen di Sekumpul Dibawa ke Rumah Singgah, Dinsos Dalami Latar Belakangnya
Baca Juga Polres Tanah Bumbu Musnahkan Ribuan Botol Miras Ilegal
“Dari informasi tim yang melakukan rescue, sejak awal ditemukan kondisinya memang sudah terlihat tidak sehat,” ujarnya.
Dari informasi yang dihimpun saat penemuan, bekantan tersebut diduga sempat tercebur ke dalam sumur sebelum berada di kawasan semak-semak.
Video saat satwa itu ditemukan juga sempat beredar di media sosial.
Setelah tidak dapat bertahan, bekantan tersebut kemudian dikuburkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan.
Kondisi tersebut juga kembali memunculkan pertanyaan mengenai keberadaan bekantan di wilayah HST.
Sebab, jumlah populasi satwa endemik Kalimantan itu di daerah ini hingga kini belum diketahui secara pasti.
Bayu mengatakan pihaknya belum memiliki data pasti mengenai jumlah bekantan yang masih berada di wilayah HST.
“Kalau untuk jumlah pastinya, kita belum tahu,” katanya.