Di Balik Penanganan Karhutla, Dapur Umum Dinsos Kalsel Siapkan 600 Bungkus Makanan per Hari
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan mengaktifkan dapur umum, untuk mendukung kebutuhan konsumsi personel yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di kawasan Hutan Lindung Landasan Ulin dan sekitarnya.
Dapur umum tersebut menjadi bagian dari pembagian kelompok penanganan karhutla, yang diarahkan Gubernur Kalimantan Selatan.
Dinas Sosial mendapat tugas pada kelompok Hutan Lindung Landasan Ulin dan sekitarnya, bersama Dinas Kehutanan sebagai koordinator, serta Polda Kalsel dan Lanal Banjarmasin sebagai anggota kelompok.
Hal itu disampaikan Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Provinsi Kalsel, Yopi Fahromi, saat ditemui Wartabanjar.com Minggu (30/08/2026).
Menurut Yopi, dapur umum mulai diaktifkan untuk melayani sekitar 200 personel. Setiap personel mendapatkan konsumsi tiga kali sehari, sehingga dapur umum menyiapkan sekitar 600 bungkus makanan setiap hari.
“Personel yang dilayani sekitar 200 orang. Kalau tiga kali makan, berarti dalam sehari kami menyiapkan sekitar 600 bungkus,” ujar Yopi.
Selain memasak, kru dapur umum Dinas Sosial juga bertugas melakukan pengemasan dan mendistribusikan makanan langsung ke sejumlah posko.
Untuk posko di kawasan Kurnia Ujung, sekitar 25 bungkus makanan didistribusikan ke posko PU, sedangkan sekitar 175 bungkus lainnya dikirim ke posko yang berada lebih ke dalam kawasan.
Baca Juga: Polda Kalsel Uji Cairan Berbahan Minyak Nabati untuk Padamkan Bara Karhutla di Tanah Gambut
Baca Juga: Kabut Asap Jalan Trikora Banjarbaru, Pengguna Jalan Keluhkan Pernapasan Sesak
Dalam proses distribusi, Dinas Sosial juga melibatkan unsur relawan, termasuk anggota Pramuka. Keterlibatan tersebut tidak hanya membantu proses pendistribusian makanan, tetapi sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda mengenai kegiatan kerelawanan dan kondisi penanganan bencana karhutla di lapangan.
“Ini juga menjadi pengalaman bagi mereka untuk mengetahui bagaimana kondisi lokasi bencana dan menumbuhkan jiwa sosial serta bibit-bibit relawan ke depan,” katanya.