WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Dampak kemarau dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut dirasakan petani di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. 

Tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat dan kesehatan pernapasan, karhutla juga membuat tanaman hortikultura petani juga menderita gangguan.

Hal itu disampaikan Pak Win, petani yang berkebun tomat, cabai, dan terong di Jalan Pondok Mangga RT 15, Kelurahan Loktabat Utara, Banjarbaru, saat ditemui langsung pada Kamis (27/08/2026).

Win mengatakan, dirinya telah menjalani usaha berkebun selama sekitar empat tahun. Menurutnya, kondisi kemarau cukup berdampak terhadap tanaman yang dibudidayakannya, terutama karena kebutuhan air untuk penyiraman meningkat.

Untuk mengatasi keterbatasan pasokan air, ia mengambil langkah dengan memperdalam sumur, agar memperoleh sumber air yang cukup untuk menyiram tanaman.

“Kalau kemarau, sangat berdampak dengan tanaman. Langkah saya sebagai pekebun dengan menambah kedalaman sumur, agar dapat pasokan air untuk menyiram,” ujar Win.

Ia menjelaskan, dari proses penanaman hingga masa panen, tanaman yang dibudidayakan membutuhkan waktu sekitar 90 hari. 

Baca Juga: ISPA di Banjarbaru Turun Jadi 977 Kasus, Warga Diminta Tetap Waspada Kabut Asap Akibat Karhutla

Baca Juga: Dapat Bantuan Operasional, Relawan Banjarbaru Masih Terkendala BBM dan Titik Air

Karena itu, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting, untuk menjaga tanaman tetap tumbuh hingga masa panen.

Selain persoalan kekeringan, Win juga mengaku merasakan langsung dampak karhutla. Asap yang muncul, terutama pada pagi hari, menghambat aktivitas dan menimbulkan persoalan pada pernapasan.

“Dampak karhutla juga sangat dirasakan. Kalau pagi hari, asap menghambat aktivitas dan masalah pernapasan. Anak saya sampai sesak napas kalau pagi,” ungkapnya.

Terkait perhatian pemerintah, Win mengaku sebelumnya pernah menerima bantuan berupa bibit, karena dirinya tergabung dalam kelompok tani. 

Ia berharap dukungan terhadap para petani dapat terus diberikan, terutama dalam menghadapi kondisi kemarau.

Win juga berharap, penanganan karhutla dapat segera dituntaskan, sehingga masyarakat tidak terus-menerus terpapar asap.