ISPA di Banjarbaru Turun Jadi 977 Kasus, Warga Diminta Tetap Waspada Kabut Asap Akibat Karhutla
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Banjarbaru mulai mengalami penurunan, di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi.
Penurunan tersebut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat melakukan pemantauan kesehatan warga terdampak karhutla di Posko Pengayuan, Banjarbaru, Rabu (26/08/2026) sore.
Tim Kemenkes, Eko Budi Yunihasto, mengatakan kasus ISPA di Banjarbaru menunjukkan tren penurunan dibandingkan sebelumnya. “Harapannya kembali ke normal,” ujarnya.
Eko menilai perkembangan tersebut menjadi kabar baik dalam penanganan dampak kesehatan akibat karhutla.
“Dari semua kabupaten yang ada, Banjarbaru yang paling cepat,” katanya.
Meski menurun, Eko menyebut kasus ISPA tidak bisa ditargetkan menjadi nol, karena penyakit tersebut tetap dapat muncul di masyarakat, terutama pada kelompok balita.
Karena itu, Kemenkes masih melakukan pemantauan terhadap sebaran penyakit, kebutuhan logistik, koordinasi lintas sektor hingga kendala penanganan di lapangan.
Baca Juga: Dapat Bantuan Operasional, Relawan Banjarbaru Masih Terkendala BBM dan Titik Air
Baca Juga: Polres Banjarbaru Dalami Penyebab Karhutla di Jalur Menuju Bandara Syamsudin Noor
“Harapan kami untuk kasus ISPA jangan sampai ada kematian,” ungkapnya.
Eko menyebut peningkatan kasus ISPA sebelumnya telah masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu segera dikendalikan agar tidak berlangsung berkepanjangan dan berkembang menjadi situasi tanggap darurat.
“Kalau berkepanjangan, itu sudah kita anggap tanggap darurat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr Siti Ningsih mencatat penurunan kasus dalam laporan mingguan.
Pada minggu ke-31 tercatat 1.181 kasus, kemudian turun menjadi 1.142 kasus pada minggu ke-32.
“Dan alhamdulillah kembali turun menjadi 977 kasus pada minggu ke-33,” ungkapnya.
Siti mengatakan penurunan angka tersebut belum tentu sepenuhnya menunjukkan jumlah penderita di masyarakat ikut berkurang.
”Bisa saja sebagian warga memilih mengobati diri sendiri, sehingga tidak datang ke Puskesmas dan kasusnya tidak tercatat dalam laporan,” bebernya.