Tersangka Karhutla di Kalsel Gunakan Bambu Berujung Api, 3 Kasus di HSS dan Banjarbaru
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Ternyata sudah ada tiga tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalsel.
Ketiga tersangka ini dua berasal dari dua kasus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan satu kasus di Kota Banjarbaru.
Untuk kasus di HSS, kedua tersangka berdalih membakar lahannya sendiri.
Saat membakar, kedua tersangka berinisial D dan J menggunakan bambu yang ujungnya berlubang dan diberi api.
"Mereka yang dari HSS ini membawa bambu yang ujungnya dilubangi, dikasih api, baru dibakar ke lahan tersebut untuk membuka lahan dia sendiri, lahan pribadi,” ungkap Kabid Humas Polda Kalsel, Kombes Pol Nur Khamid.
Adanya tiga tersangka dalam kasus Karthutla di Kalsel, juga diungkapkan Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops), Komjen Fadil Imran saat meninjau Posko Siaga Karhutla di Jalan Lingkar Utara Guntung Damar, Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru Sabtu (22/8/2026).
“Ada tiga orang tersangka yang sudah diproses oleh penyidik, mudah-mudahan ini bisa menjadi pembelajaran kepada masyarakat,” ungkapnya.
Baca Juga: Karhutla Banjar-Banjarbaru, Kodim 1006/Banjar Ungkap Titik Rawan
Baca Juga: Orang Utan di Kobar Kalteng Terancam Karhutla, Puluhan Ular Ditemukan Terpanggang
Fadil pun mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, meskipun lahan tersebut merupakan milik pribadi.
“Mudah-mudahan antara pemerintah bersama segenap komponen masyarakat bisa sama-sama melakukan langkah-langkah pencegahan dan pemadaman di masa depan,” ucapnya.
Dari tiga tersangka tersebut, dua di antaranya berasal dari Kabupaten HSS.
Keduanya berinisial D dan J dan kasusnya ditangani Tipidter Ditkrimsus Polda Kalsel.
"Adapun motifnya, mereka adalah membakar lahannya sendiri, untuk sementara tersangka dan barang buktinya sudah diamankan di Polres HSS,” kata Kombes Pol Nur Khamid.
Ring 1 Penanganan Karhutla
Kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarbaru, Kalimantan Selatan jadi fokus Satuan Tugas (Satgas) Udara Karhutla Kalsel.
Lokasi tersebut menjadi fokus utama dikarenakan memiliki risiko terhadap aktivitas penerbangan di sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor.