Berdasar data WALHI, terdapat 34.262 titik panas sejak 1 Januari hingga 27 Juli 2026.

Sementara data BNPB terbaru mendeteksi ribuan titik panas baru yang mengepung wilayah Kalimantan.

Karhutla ini sangat berdampak negatif bagi masyarakat.

Selain ribuan orang termasuk lansia, anak-anak dan balita terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Karhutla yang diikuti kabut asap pekat mengganggu aktivitas warga, termasuk dunia pendidikan, kesehatan dan layanan masyarakat.

Karhutla juga menyebabkan hilangnya fungsi ekosistem gambut, musnahnya flora-fauna, serta pelepasan emisi gas rumah kaca ke udara. (wartabanjar.com)