WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus bertambah. Hingga Senin (10/08/2026), tercatat 1.051 kejadian dengan luasan lahan terdampak sekitar 3.000 hektare.

Dalam sepekan terakhir, jumlah kejadian ikut meningkat seiring bertambahnya titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Kalsel.

Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi cuaca yang semakin panas dalam beberapa hari terakhir.

“Suhu udara semakin panas, sehingga menyebabkan lahan semakin kering dan rentan terjadi kebakaran,” ujarnya saat ditemui, Selasa (11/08/2026). 

Di antara sejumlah wilayah terdampak, Banjarbaru menjadi salah satu daerah dengan kejadian karhutla cukup tinggi.

Ronny menyebutkan, tercatat 244 kejadian dengan luasan lahan terdampak mencapai sekitar 672 hektare.

“Paling banyak saat ini masih di sekitar wilayah bandara, yaitu di wilayah Banjarbaru,” jelasnya.

Menurut Ronny, penanganan di lapangan masih menghadapi kendala, terutama akses menuju titik api.

Kondisi lahan yang sulit diakses tersebut, membuat petugas tidak selalu bisa membawa armada pemadam hingga mendekati lokasi kebakaran.

Baca Juga: Polres Banjarbaru Bagi-bagi Air Bersih, Satbinmas Mapping Warga Terdampak Kekeringan

Baca Juga: Mabuk Alkohol, Pria di Bangkal Banjarbaru Tusuk Bertubi-tubi sang Istri yang Hendak Temui Anak

“Kendala aksesibilitas kita menuju titik api itu, yang memang masih menjadi kendala utama,” katanya.

Ronny menjelaskan, dukungan helikopter water bombing, menjadi salah satu upaya untuk mempercepat penanganan kebakaran, di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Dua helikopter water bombing yang beroperasi di Kalsel saat ini, difokuskan untuk penanganan di kawasan Ring 1 sekitar bandara.

“Fokus utama itu adalah area Ring 1. Area Ring 1 itu adalah wilayah bandara, yaitu mencakup daerah Banjarbaru, sebagian Kabupaten Banjar, sebagian Tanah Laut, sebagian Batola,” ungkapnya.

Saat ini, dua helikopter water bombing masih beroperasi di Kalsel. Jumlah tersebut berkurang dari sebelumnya tiga unit, setelah satu helikopter dipinjamkan untuk membantu penanganan kebakaran di Bromo.

Kondisi tersebut membuat BPBD Kalsel mengajukan permintaan tambahan helikopter, untuk mengantisipasi jika eskalasi karhutla kembali meningkat.