WARTABANJAR.COM, BONTANG - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap mendistribusikan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke SDN 012 Bontang Selatan Provinsi Kalimantan Timur pada Kamis (6/8/2026), kendati sehari sebelumnya belasan murid serta guru mual, muntah dan diare setelah menyantap hidangan program Presiden Prabowo Subianti dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tersebut..

Padahal sesaat setelah kejadian pada Rabu (5/8/2026), Kepala Regional SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Bontang, Surya Dwi Saputra, menyatakan distribusi ke sekolah tersebut akan dihentikan sementara selama proses evaluasi.

Namun ternyata pernyataan tersebut tidak terbukti di lapangan karena MBG tetap diantar. 

Baca juga: 85 Murid di Kukar Kaltim Mules Muntah Usai Santap Pentol MBG, Tiga Anak Harus Rawat

Kepala SPPG Bontang Utara 2, Muhammad Rezky, mengaku belum menerima informasi ataupun instruksi mengenai penghentian distribusi MBG.

Hal ini disampaikannya di sela pertemuan dengan pihak SDN 012 Bontang Selatan.

Hingga berita ini diterbitkan, Bontang Post masih berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Regional SPPG BGN Kota Bontang, Surya Dwi Saputra, terkait alasan distribusi MBG tetap dilakukan meski sebelumnya disampaikan akan dihentikan sementara selama proses evaluasi.

Sebelumnya, sebanyak 12 orang yang terdiri atas murid serta guru SDN 012 Bontang Selatan dilaporkan mual, muntah, hingga diare setelah mengonsumsi MBG.

Mendengar kejadian tersebut, BGN bersama Dinas Kesehatan Kota Bontang melakukan investigasi dan pengambilan sampel makanan untuk diuji di laboratorium. 

Hingga kini, penyebab keluhan tersebut masih belum dipastikan karena hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu.

Baca juga: Operasional SPPG Penyalur MBG Berbakteri di Seruyan Kalteng Disetop Sementara

Kejadian ini hanya berselang dua hari dengan peristiwa serupa di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kaltim.

Sebanyak 85 murid  SDN 025 Sebulu Modern dan SDN 003 Sebulu harus menjalani perawatan medis setelah menyantap MBG, Senin (3/8/2026).

Selain itu, seorang warga yang mencicipi makanan di Posyandu sebelum diberikan kepada balita juga dilaporkan mengalami keluhan sakit perut.