​"Untuk kemarin ada anjuran pasti ada kami di suruh 3 kali tanam tapi lahan kita mampu, kalu 2 kali tanam aja kita berpacu waktu, masyarakat kita di sini masih mengutamakan bibit lokal daripada bibit unggul," jelas Misran.

​Status kepemilikan lahan juga menjadi faktor penghambat bagi petani untuk beralih menggunakan pola tanam bibit unggul.

​"Kebanyakan kita di sini petani penggarap jadi misalnya kita mau mengusahakan tanam bibit unggul kalau lahannya tidak ada yg menyewakan artinya gagal. Salah satunya Ulun pribadi tidak ada dataran tinggi. Kalau mau dengan bibit unggul rata rata hampir mustahil," tuturnya.

​Selain kekurangan pasokan air tawar, ancaman lain yang merusak kualitas padi di Desa Handil Negara adalah rembesan atau intrusi air asin dari arah laut.

​"Kalau di handil Negara luasannya sekitar 300 hektare. Dari segitu sekitar 20 % aja yang bisa panen. Kalau rata rata hampir separo kelompok handil Negara gagal panen," lanjutnya.

​"Sebagian pun kadang air asin sampai pak. Yang arah ke barat arah ke laut. Jadi air asinnya sampai. Walaupun Padi itu bisa keluar tapi tetap keluar nya putih (hampa)," pangkas Misran.

​Kondisi ketidakpastian serupa dialami petani Desa Padang Luas, Kecamatan Kurau, Muhammad Zaidin Nur.

Pemilik lahan seluas 6 hektare tersebut mengaku kini hanya bisa berharap pada datangnya hujan untuk menyelamatkan tanaman padinya.

​"Lahan sekitar 6 hektare. Belum tau lagi bisa panen atau tidak. Kalau Sekitar semingguan ini ada hujan masih ada harapan untuk panen. Kalau panas tarus bisa gagal," ujar Muhammad Zaidin Nur. (Wartabanjar.com)