WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Ancaman gagal panen membayangi para petani di Kabupaten Tanah Laut akibat musim kemarau panjang yang memicu kekeringan lahan pertanian di 11 kecamatan, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Minggu (2/8/2026).

Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan produktivitas tanaman padi hingga ancaman kerugian besar bagi para petani, khususnya di wilayah pesisir dan dataran rendah seperti Kecamatan Kurau.

Kabid Tanaman Pangan Distanhorbun Tanah Laut, M. Fahrizal, menyampaikan bahwa akumulasi lahan pertanian yang terdampak berada dalam taraf yang bervariasi dari tingkat ringan hingga berat.

​"Hasil Warga Sekitar luas terdampak kategori ringan di 11 Kecamatan Kurang Lebih 3260 hektare sedangkan luas terdampak kategori sedang kurang lebih 43 hektare luas terdampak berat 63 hektare," kata M. Fahrizal.

​M. Fahrizal menambahkan, meskipun ribuan hektare lahan mengalami kekeringan, sebagian besar area masih menyimpan potensi untuk dipanen walau hasilnya tidak maksimal.

​"Insyallah luas terdampak ini masih ada panen. Tapi masih produktivitas nya yang masih turun," tambahnya.

Baca Juga Pria Meninggal Dunia di Sungai Martapura Diduga Kelelahan Berenang

Baca Juga: Polisi Selidiki Dugaan Orang Tenggelam di Kawasan Menara Pandang Banjarmasin

Krisis Air dan Ancaman Intrusi Air Asin di Desa Handil Negara

​Dampak kekeringan dirasakan jauh lebih berat oleh para petani di tingkat tapak, salah satunya di Desa Handil Negara, Kecamatan Kurau. Petani setempat mencatat potensi gagal panen di wilayahnya mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

​Petani dari Kelompok Tani Bunga Padi Desa Handil Negara, Misran, mengungkapkan bahwa dari ratusan hektare lahan di desanya, hanya sebagian kecil yang berpeluang menghasilkan bulir padi secara normal.

Untuk musim kemarau ini rata rata kekaringan kemungkinan 80 % kekeringan lah, 80 % gagal panen," kata Misran.

​Misran menjelaskan kendala yang dihadapi masyarakat dalam merespons anjuran percepatan masa tanam.

 Selain keterbatasan lahan dataran tinggi dan dominasi status petani penggarap, warga masih bergantung pada bibit lokal yang membutuhkan durasi tanam lebih lama.