Penanganan Karhutla Kalsel Terus Diperkuat, BPBD Maksimalkan Dukungan Darat dan Udara
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Berbagai upaya terus dilakukan BPBD Kalimantan Selatan untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik melalui jalur darat maupun udara.
Selain mengerahkan helikopter water bombing, BPBD Kalsel juga terus menyiapkan berbagai dukungan penanganan, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi cuaca memungkinkan.
Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengatakan pemerintah pusat masih memberikan dukungan sarana dan prasarana, untuk membantu penanganan karhutla di Kalsel.
”Sementara ini helikopter ada empat unit, terdiri dari satu unit untuk patroli dan tiga unit water bombing,” ujarnya, Sabtu (01/08/2026).
Selain armada udara, BNPB juga menyalurkan berbagai bantuan logistik dan peralatan untuk mendukung proses pemadaman di lapangan.
”Logistik dan peralatan juga kita mendapat bantuan dari BNPB berupa mesin, selang, dan lain-lain,” ungkapnya.
Ronny menjelaskan, jumlah helikopter water bombing yang saat ini beroperasi di Kalimantan Selatan memang berkurang.
Baca Juga: Karhutla Kalsel, Banjarbaru Masih Jadi Wilayah Prioritas Penanganan
Baca Juga: Karhutla Banjarbaru Capai 621 Hektare, Landasan Ulin Jadi Wilayah Terparah
Sebagian armada digeser untuk membantu penanganan karhutla di provinsi lain, yang kondisinya lebih membutuhkan.
”Satu unit dibantu ke Kalbar, dan satu unit lagi digeser ke Kalteng, sehingga sementara tersisa dua water bombing. Tapi apabila kami membutuhkan tambahan, akan segera digeser kembali ke Kalsel,” jelasnya.
Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk sementara dihentikan setelah BMKG menilai kondisi awan belum memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.
”Sementara dihentikan karena pertimbangan dari BMKG bahwa sebaran awan sudah mulai tipis. Untuk menjaga efisiensi dan efektivitas, sementara OMC kita hentikan,” tuturnya.
Meski demikian, Ronny memastikan OMC tetap menjadi salah satu opsi penanganan apabila kondisi cuaca kembali mendukung.
”Bisa dilakukan apabila kondisi awan yang akan disemai cukup. Jadi semuanya tergantung dinamika di lapangan. Kalau memang awannya memadai untuk disemai, kita akan laksanakan OMC,” pungkasnya. (wartabanjar.com/Ikhsan)