Kabut Asap Pekat Selimuti Tabalong, BPBD Sebut Kiriman Kabupaten Lain
WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Kabut asap masih menyelimuti sejumlah Kawasan di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah ini terpantau minim.
Kondisi udara yang terlihat pekat tersebut turut mengganggu jarak pandang warga saat beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan aplikasi Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU.net), kualitas udara di Tabalong pada Senin (5/10/2026) siang masih tercatat dalam kategori berbahaya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabalong memastikan hingga saat ini tidak ditemukan kejadian karhutla yang signifikan.
Baca juga: Operasi Pencarian Korban Kapal Virgo Hari Ke-23 Nihil, 53 Penumpang Masih Hilang
Baca juga: Mahasiswi ULM Turun Langsung Berjibaku Padamkan Karhutla di Gambut Kabupaten Banjar
Berdasarkan Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi), hanya terdeteksi satu hotspot di Desa Maburai, Kecamatan Murung Pudak.
Meski demikian, titik tersebut diperkirakan bukan merupakan titik api.
Kepala BPBD Tabalong Haris Fakhrozi mengatakan, kabut asap yang menyelimuti Tabalong diduga berasal dari wilayah lain yang terbawa pergerakan angin.
Menurut Haris, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta citra Satelit Himawari pada 3 Oktober 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah bagian barat dan utara Kalimantan Selatan.
Sementara itu, angin berembus dari arah timur-tenggara dengan kecepatan sekitar 5 hingga 15 knot.
Kondisi tersebut diduga membawa sebaran asap menuju wilayah Tabalong.
"Informasi yang disampaikan BMKG berdasarkan citra Satelit Himawari pada tanggal 3 Oktober kemarin pukul 17.00 WITA, adanya asap di wilayah barat Kalsel dan kemudian adanya pergerakan angin menuju ke wilayah utara Kalsel yaitu di wilayah Tabalong, sehingga menimbulkan asap pekat," tutur Haris.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Tabalong mengimbau masyarakat tetap waspada dan menjaga kondisi kesehatan.
Imbauan terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, terutama saat kondisi kualitas udara mengalami penurunan.