Teknologi China Viral Saat Evakuasi Banjir, Drone Jadi Helikopter Hingga Jembatan Jadi Kapal
Dengan membawa base station bergerak, drone mampu menyediakan sinyal komunikasi dalam radius hingga 50 kilometer.
Warga di daerah yang seluruh jaringan komunikasinya terputus pun, tetap bisa menghubungi keluarga maupun meminta bantuan.
Produsen drone kenamaan DJI juga ikut mengerahkan lebih dari 100 drone untuk mengirim makanan, air minum, obat-obatan, serta perlengkapan darurat, ke daerah yang tidak bisa dijangkau kendaraan darat.
Teknologi lain yang viral adalah powered floating bridge atau jembatan ponton bermotor milik China Anneng Construction Group.
Peralatan ini disimpan dalam keadaan terlipat di atas kendaraan angkut.
Saat diturunkan ke air, seluruh struktur akan terbuka secara otomatis menjadi platform terapung sepanjang sekitar 60 meter.
Video transformasi jembatan ini pun viral di internet. Kemudian warganet menyebut jembatan lipat ini sebagai "transformerts" di dunia nyata.
Platform tersebut dapat digunakan sebagai jembatan darurat maupun kapal penyeberangan dengan kapasitas angkut 300 hingga 400 orang, dalam sekali perjalanan dan beban lebih dari 60 ton.
Beberapa modul juga bisa digabung menjadi platform yang lebih panjang, sesuai kebutuhan operasi penyelamatan.
Teknologi tersebut digunakan untuk mengevakuasi sekitar 6.000 mahasiswa yang terjebak banjir di Kota Guigang.
Selain drone dan jembatan ponton otomatis, tim penyelamat juga mengerahkan helikopter konvensional, kendaraan tanpa awak, serta drone relay satelit, untuk menjaga komunikasi tetap berjalan selama operasi evakuasi berlangsung. (Wartabanjar.com)