WARTABANJAR.COM - Teknologi China kembali menghebohkan dunia. Kali ini bukan dari teknologi militer, tapi operasi penyelamatan banjir bandang di China yang videonya viral di media sosial dalam beberapa hari belakangan.

Bukan hanya karena skala evakuasinya, tetapi juga teknologi canggih (high-tech) yang digunakan.

Mulai dari drone yang berfungsi layaknya helikopter mini hingga jembatan lipat otomatis yang berubah menjadi kapal penyelamat.

Teknologi tersebut dikerahkan setelah Topan Maysak menerjang Provinsi Hainan, pada awal Juli, sebelum bergerak ke Daerah Otonom Guangxi Zhuang dan memicu hujan ekstrem.

Curah hujan yang memecahkan rekor, menyebabkan banjir besar di berbagai kota. Lebih dari 375.000 orang terdampak, sekitar 130.000 warga dievakuasi, dan sedikitnya 39 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Salah satu teknologi yang paling mencuri perhatian adalah penggunaan drone angkut berat (heavy-lift drone) untuk menyelamatkan warga yang terjebak banjir.

Di Kota Yunbiao, Hengzhou, lebih dari 15.000 warga sempat terisolasi setelah seluruh jalan terendam banjir.

Kendaraan penyelamat tidak dapat menjangkau lokasi sehingga tim SAR mengerahkan drone sebagai alternatif.

Baca Juga: Komisi Eropa Berencana Membatasi Akses Anak-anak ke Media Sosial

Baca Juga: AI Deepfake Ancam Penghasilan Artis Jepang, Pelaku Meniru Wajah dan Suara sang Selebritas

Tim penyelamat menempuh perjalanan sekitar 1.700 kilometer selama 18 jam untuk tiba di lokasi.

Mereka membawa dua drone angkut berat dengan bentang sayap lebih dari tiga meter dan kapasitas angkut mencapai 100 kilogram, serta tiga drone kecil untuk pengintaian.

Drone kemudian menerbangkan tali penyelamat ke atap rumah warga yang terjebak banjir.

Dua korban berhasil dievakuasi dari atap bangunan, sebelum dipindahkan ke perahu karet menuju lokasi aman.

Selain mengevakuasi korban, drone juga dimanfaatkan untuk menjatuhkan logistik, melakukan pencarian menggunakan kamera inframerah pada malam hari, memantau kondisi banjir dari udara, hingga menyiarkan instruksi darurat kepada warga.

Produsen eVTOL asal China, Vertaxi, bahkan mengoperasikan drone yang membawa stasiun pemancar seluler ke udara.