Sejumlah pekerjaan fisik telah dilakukan, mulai dari pembangunan bangunan pengendali air, rehabilitasi saluran irigasi, hingga normalisasi atau pendalaman saluran yang rutin dilaksanakan setiap tahun.
Selain itu, PUPR Kalsel juga melakukan pengaturan operasional pintu air sebagai upaya mempertahankan cadangan air di daerah irigasi.
“Menjelang musim kemarau, kami juga melakukan pengaturan pintu-pintu air. Ada beberapa pintu air yang ditutup penuh untuk mempertahankan cadangan air, sementara di lokasi tertentu tinggi balok pintu air terus disesuaikan agar debit air tetap terjaga dan dapat mengurangi risiko kekeringan,” jelasnya.
Upaya mitigasi juga dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor kehutanan, untuk menjaga kecukupan air di kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor.
Salah satu langkah yang telah dilakukan ialah membuka pintu air tertentu sejak Mei 2026 guna menjaga kelembapan lahan dan mencegah kawasan tersebut mengalami kekeringan.
Meski berbagai langkah antisipasi telah disiapkan, PUPR Kalsel tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan cuaca mengingat puncak musim kemarau diperkirakan baru akan terjadi pada Agustus mendatang.
“Kami akan terus melakukan simulasi, pemantauan, serta pembersihan saluran-saluran yang masih memerlukan penanganan agar sistem irigasi tetap berfungsi optimal saat kemarau mencapai puncaknya,” pungkas Herry. (Wartabanjar.com/MC Kalsel/*)







