​“Kita tahu Marc banyak menggunakan rem belakang, dan itu memang membantu mengendalikan motor. Cara itu membantu mengurangi sedikit beban pada bagian depan, jadi apa pun yang dia lakukan, dia telah menemukan titik keseimbangan yang tepat. Pembalap lain harus waspada karena dia adalah kandidat juara. Ini luar biasa,” pungkasnya.

Seperti yang diketahui bersama, kekuatan super Marc Marquez di MotoGP sebagian besar dikaitkan dengan kehebatannya dalam menginjak pedal rem belakang.

Banyak tokoh di paddock kelas utama memuji kemampuan pembalap Spanyol itu untuk mengerem secara agresif di saat-saat terakhir, namun tetap berhasil mencapai titik puncak (apex) tikungan.

​Faktanya, para insinyur di paddock telah mencoba mencari cara untuk meniru teknik pengereman ala Marc Marquez ke dalam perangkat elektronik sepeda motor selama bertahun-tahun, namun belum membuahkan hasil. Cara pembalap andalan tim Ducati Lenovo itu menghindari penguncian ban depan bahkan sering membuat para mekanik kebingungan.

Meskipun dominasi Marc Marquez tahun lalu menunjukkan bahwa "tidak ada orang lain" di grid MotoGP yang dapat menandingi teknik luar biasanya, Neil Hodgson percaya bahwa ada satu bintang yang bersinar dari kejuaraan tahun ini, yang telah melampaui juara kelas utama tujuh kali tersebut.

Neil Hodgson juga membandingkan Ai Ogura dengan rekan setim Marc Marquez di tim pabrikan Ducati, Francesco Bagnaia. Hodgson menyoroti bagaimana pembalap Jepang itu biasanya tampil gemilang di Grand Prix dengan cara yang "sangat berlawanan", dengan gaya balap sang juara dunia dua kali, Pecco Bagnaia.

​“Dia hampir kebalikan dari Bagnaia. Jika Bagnaia tertinggal di belakang seseorang, dia akan kesulitan setelah dua atau tiga putaran. Dan Ai Ogura adalah kebalikannya,” ujar Neil Hodgson.

​Hodgson memberikan penilaiannya tentang bagaimana Ogura unggul saat membuntuti rivalnya, terutama saat menghadapi peningkatan tekanan ban depan akibat udara kotor (dirty air) di depannya. Di sisi lain, Bagnaia sering kali justru keteteran dalam kondisi seperti ini.