Relawan Lebih Dulu Gelar Haul, Simak Profil Guru Kapuh Penerus Guru Sekumpul
Di sana, selama 4 tahun beliau mempelajari banyak ilmu seperti Fiqih, Tauhid, Tasawuf, Tafsir, dan Hadits.
Sempat bekerja selama 3 tahun di Sampit, Kalteng, Guru Kapuh kembali ke kandangan.
Di kampung halaman, beliau rutin "mengaji baduduk" di berbagai pengajian ulama setempat, termasuk belajar tasawuf kepada Guru H Saberi di Kandangan dan Guru Muhammad Aini di Rantau, Tapin.
Pada 1992, Guruh Kapuh "nyantri" ke ulama besar Kalsel, Guru Sekumpul yang saat itu masih berada di kampung Keraton, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Selain menimba ilmu, beliau sempat mengajar di Sekolah Menengah Islam Hidayatullah (SMIH) Martapura dan Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) Martapura sampai 1998.
Di Sekumpul inilah, Guru Kapuh mendapatkan bimbingan tasawuf dan menjalani suluk melalui tarekat dan amalan-amalan sufi dari Guru Sekumpul.
Setelah di Martapura sekitar 6 tahun ia pulang ke kampung halaman dan mengajar di Pondok Pesantren Darul Ulum Amawang, Kecamatan Kandangan.
Membuka pengajian di Masjid Al Hidayah di samping rumahnya dan mengisi pengajian di berbagai tempat, sambil tetap mengikuti pengajian Guru Sekumpul yang sudah berpindah lokasi ke Musala Raudhah Sekumpul.
Dari waktu ke waktu pengajiannya di Masjid Al Hidayah semakin banyak didatangi jemaah dan semakin banyak pula permintaan jadwal mengisi pengajian di tempat-tempat lain.
Sepeninggal wafatnya Guru Sekumpul pada 2005, jemaah Guru Kapuh makin bertambah.
Jemaah mengatakan mengikuti pengajian Guru Kapuh seakan dapat mengurangi kerinduan mereka kepada Guru Sekumpul.
Apalagi kitab yang diulas dan cara penyampaiannya oleh kedua ulama Kalsel ini ada kemiripan. (wartabanjar.com)