Selasa malam, mereka melakukan kegiatan barbeque dengan menggunakan gas portable untuk memasak di kawasan dataran tinggi berhawa dingin tersebut.

Rabu (27/5/2026) sekira pukul 09.00 WIB, seorang petugas glamping datang untuk mengantarkan sarapan kepada mereka

Namun saat dipanggil dari luar tenda, tidak ada jawaban sama sekali.

Karena mengira mereka sedang tidur, petugas kembali ke sekretarit pengelola.

Sekira pukul 11.45 WIB, petugas kembali mendatangi tempat berkemah keluarga tersebut untuk mengingatkan waktu check out.

Namun, juga tidak ada respons dari dalam tenda glamping.

Petugas kembali membiarkan hingga sekira pukul 15.45 WIB, mereka membuka pintu tenda.

Ternyata satu keluarga tersebut sudah terbujur dalam kondisi kaku dan tidak bernapas.

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menemukan kondisi tenda masih rapi dan tidak terdapat tanda-tanda kekerasan pada tubuh para korban.

Posisi tangan para korban diketahui saling menggenggam, sedangkan mulut beberapa korban ditemukan berbusa.

Temuan ini membuat polisi menduga para korban meninggal akibat keracunan atau kemungkinan hipotermia karena suhu dingin di kawasan Posong.

Pada tahap awal penyelidikan, polisi menduga kematian satu keluarga tersebut disebabkan keracunan makanan.

Polisi kemudian mengamankan sejumlah sampel makanan, termasuk hidangan barbeque, untuk diperiksa di Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah.

Selain itu, autopsi terhadap jenazah dilakukan oleh dokter forensik RSUD Temanggung bersama Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah guna memastikan penyebab pasti kematian.

Namun, dalam perkembangan penyelidikan berikutnya, dugaan keracunan makanan mulai terbantahkan.

Pasalnya, menurut Iptu Komang Mahendra, tidak ada bekas muntahan maupun tanda-tanda perlawanan pada tubuh korban.

Dugaan lebih mengarah ke keracunan gas.

Polisi kemudian menemukan adanya gas portable di dalam tenda.

Diduga, keluarga itu langsung tidur seusai bakar-bakaran dengan pintu tenda tertutup rapat.

"Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng," kata Iptu Komang Mahendra. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)