Penjelasan tersebut menegaskan bahwa niat satu bulan penuh tidak menggantikan kewajiban niat harian dalam mazhab Syafi’i. Praktik itu hanya berfungsi sebagai bentuk antisipasi apabila lupa berniat pada malam hari, dengan syarat dilakukan dalam kerangka taqlid yang benar kepada mazhab yang membolehkannya.

Jika tidak dalam konteks taqlid yang sah, seseorang justru berisiko menjalankan ibadah yang dianggap tidak sah menurut keyakinannya sendiri.

Lafaz Niat Puasa Ramadhan Satu Bulan

Adapun lafaz niat puasa Ramadhan satu bulan penuh dengan mengikuti pendapat Imam Malik adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيْدًا لِلْإِمَامِ مَالِكِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku niat berpuasa sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti Imam Malik sebagai fardhu karena Allah Taala.”

Sikap yang Lebih Aman

Secara prinsip, menurut mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan tetap harus diperbarui setiap malam sebelum terbit fajar.

Niat satu bulan penuh hanya bersifat anjuran sebagai langkah kehati-hatian, bukan pengganti kewajiban niat harian.

Karena itu, sikap yang lebih aman adalah tetap memperbarui niat setiap malam. Sementara pendapat mazhab lain dapat dimanfaatkan secara proporsional ketika memang diperlukan, tanpa meninggalkan dasar keyakinan mazhab yang dianut.

Kesimpulan Singkatnya

✔ Menurut mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap malam sebelum fajar.
✔ Niat satu bulan penuh tidak menggantikan niat harian.
✔ Niat satu bulan boleh dibaca sebagai bentuk antisipasi jika lupa, dengan mengikuti pendapat mazhab Malik.
✔ Sikap paling aman adalah tetap memperbarui niat setiap malam.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad