Observatorium Bosscha ITB Ungkap Hilal 1 Ramadhan 1447 H Kemungkinan Tak Terlihat, ini Sebabnya

BACA JUGA: Waspada Banjir Rob di Pesisir Kalsel Pada 16-24 Februari

Prediksi Hilal

Penentu awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan, versi Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama memakai kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darusalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS).

Patokan utamanya adalah hilal punya ketinggian 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut Bulan-Matahari 6,4 derajat.

Di bawah angka-angka itu, belum dianggap masuk bulan hijriah baru.

Jika memenuhi kriteria MABIMS pada saat pengamatan di sore hari, maka esok harinya sudah diperhitungkan sebagai bulan hijriah baru.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan kondisi hilal yang menjadi dasar penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah di Indonesia.

Menurut catatan BMKG, ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura, Papua hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Sementara pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal berkisar antara 7,62 derajat di Merauke, Papua hingga 10,03 derajat di Sabang, Aceh.

Kemudian, elongasi hilal pada 17 Februari 2026 berada di kisaran 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura. Pada 18 Februari 2026, elongasi meningkat menjadi antara 10,7 derajat di Jayapura hingga 12,21 derajat di Banda Aceh.

Dengan data tersebut, besar kemungkinan hilal tidak teramati dan awal bulan Puasa tahun ini berpotensi berbeda dengan Muhammadiyah yang sudah lebih dulu menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin juga memprediksi 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026. Prediksi ini berbeda dengan Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Menurut Thomas, perbedaan tersebut dipicu oleh perbedaan kriteria penentuan hilal. Ia menjelaskan, pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah.

“Fakta astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik,” kata Thomas.

Dengan kondisi tersebut, BRIN memprediksi 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026.