Nuansa Imlek Tahun Kuda Api Warnai Kelenteng Po An Kiong, Pesan Harmoni di Banjarmasin
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Gemerlap cahaya lilin dan aroma dupa memenuhi Kelenteng Karta Raharja atau Po An Kiong di Jalan Niaga Utara, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan pada Senin (16/2/2026).
Menjelang pergantian Tahun Baru Imlek, suasana khidmat berpadu dengan warna-warni perayaan yang sarat makna kebersamaan.
Perayaan tahun ini terasa istimewa dengan hadirnya Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Tambrin, yang menyempatkan diri bersilaturahmi dengan umat Tionghoa.
Kehadirannya menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap keberagaman serta kerukunan antarumat beragama.
Tambrin menyampaikan harapan agar perayaan Imlek membawa kebahagiaan, keberkahan, dan kedamaian bagi seluruh masyarakat.
“Semoga saudara-saudara kita yang merayakan Imlek senantiasa diberikan kebaikan dan suasana damai selalu menyertai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi Imlek merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang patut dihormati dan dijaga bersama.
“Kehadiran kami di sini menunjukkan bahwa umat Tionghoa adalah bagian dari keluarga besar kita. Sudah sepatutnya saling mendukung dalam menjalankan kegiatan keagamaan,” tegasnya.
Di dalam kelenteng, aktivitas ibadah mulai tampak sejak malam hari. Umat berdatangan untuk bersembahyang dan menyalakan lilin, sebagai simbol doa dan harapan menyongsong tahun yang baru.
Pengurus Kelenteng Po An Kiong, Chitra Suryapandi menjelaskan, bahwa berdasarkan penanggalan Tionghoa, 2026 merupakan Tahun Kuda Api.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk saling menjaga, mengingat karakter tahun tersebut kerap dimaknai penuh tantangan.
“Mudah-mudahan tahun Kuda Api ini membawa kebaikan. Kita semua, tanpa melihat suku maupun agama, harus saling menjaga dan menghormati,” ujar pria yang akrab disapa Koh Aci itu.
Seiring rangkaian Imlek hingga Cap Go Meh yang berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan, pihak kelenteng turut menyiapkan langkah penyesuaian. Salah satunya dengan mengatur jadwal atraksi budaya seperti Barongsai agar tidak mengganggu umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
“Kami imbau Barongsai digelar malam hari, setelah waktu berbuka. Supaya semua bisa beribadah dengan nyaman,” katanya.