Beberapa studi bahkan menunjukkan AI masih gagal menyelesaikan tugas-tugas umum pekerjaan jarak jauh maupun perkantoran dengan baik.

Selain itu, kemampuan AI menghasilkan keuntungan ekonomi nyata bagi perusahaan juga belum sepenuhnya terbukti.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa AI tidak selalu meningkatkan produktivitas. Bahkan, dalam beberapa kasus, teknologi ini justru memperlambat alur kerja karena manusia harus memeriksa ulang hasil AI dua hingga tiga kali.

AI Bisa Memperberat Beban Kerja, Bukan Mengurangi

Alih-alih membuat pekerjaan lebih ringan, AI juga dikhawatirkan meningkatkan intensitas kerja. Karyawan bisa dituntut menangani lebih banyak tugas sekaligus, yang berujung pada kelelahan mental dan menurunnya kualitas kerja.

Meski begitu, para pemimpin perusahaan AI terus memberikan peringatan keras.

CEO Anthropic, Dario Amodei, baru-baru ini menyebut AI dapat menghapus setengah dari pekerjaan kerah putih tingkat pemula. Hal senada juga disampaikan CEO OpenAI, Sam Altman, yang menilai teknologi ini siap menghancurkan seluruh kategori pekerjaan.

Perkembangan AI yang begitu cepat membuat masa depan dunia kerja kini menjadi salah satu isu paling panas dan menegangkan dalam era digital.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad