Sekda HST Muhammad Yani Terlibat Film Horor “Kuyank”, Angkat Teror Mitos Kuyang di Tanah Banjar
Bagi Muhammad Yani, “Kuyank” tidak berhenti pada unsur horor semata. Ia melihat sosok kuyank sebagai metafora rasa insecure dalam kehidupan manusia, terutama ketika tekanan sosial, budaya, dan keluarga hadir bersamaan.
Dalam pandangannya, sebagian masyarakat Banjar masih percaya pada praktik tenung, membilang, atau panambaan. Realitas sosial tersebut tergambar dalam film sebagai faktor yang memengaruhi keputusan tokoh Rusmiati.
“Kuyank bukan sekadar makhluk gaib. Ia bisa dibaca sebagai bayangan ketakutan manusia akan kehilangan,” tulisnya.
Ia menilai tekanan dari mertua, tuntutan keturunan, hingga persoalan ekonomi menjadi akumulasi konflik batin yang akhirnya menyeret seseorang pada pilihan ekstrem.
“Di situ terlihat bagaimana rasa insecure bisa melahirkan konflik, bahkan kekerasan. Padahal yang dibutuhkan sebenarnya adalah empati dan saling memahami,” ucapnya.
Dukungan untuk Karya Lokal dan Budaya Banjar
Muhammad Yani menegaskan, film “Kuyank” bukan hanya tontonan horor, tetapi juga potret dinamika sosial masyarakat Banjar yang masih kuat dengan tekanan budaya dan kepercayaan tradisional.
“Kisah lokal seperti ini punya nilai artistik. Tinggal bagaimana dikemas dengan baik agar menjadi dokumentasi budaya, bukan sekadar cerita mistik,” katanya.
Ia berharap film bertema lokal seperti “Kuyank” dapat memperluas pengenalan budaya Kalimantan hingga ke tingkat nasional.
Keterlibatannya dalam film tersebut, lanjutnya, merupakan bentuk dukungan terhadap karya anak daerah sekaligus upaya menjaga narasi budaya lokal tetap hidup di ruang publik.(wartabanjar.com/Adew)
editor: nur_muhammad