Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan mengumumkan rencana pawai besar bertajuk “aksi perlawanan nasional” yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (12/01/2026).

Media pemerintah menggambarkan langkah ini sebagai simbol perlawanan Iran terhadap tekanan geopolitik global.

Protes Kini Punya Figur Pemimpin

Jurnalis Iran, Nazenin Ansari, menyebut protes kali ini berbeda dari gelombang sebelumnya. Menurutnya, gerakan kini memiliki figur pemimpin yang jelas, yakni Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang hidup di pengasingan sejak Revolusi Islam 1979.

“Gerakan ini bersifat sekuler dan tidak lagi menggunakan narasi agama. Yang membedakan, sekarang ada sosok pemimpin yang menjadi simbol persatuan oposisi,” kata Ansari.

Ia menilai kehadiran Reza Pahlavi membuat berbagai kelompok oposisi mulai bergerak dalam satu arah, memperkuat tekanan terhadap rezim yang berkuasa.

Harapan di Tangan Rakyat

Daniela Sepheri menegaskan masa depan Iran harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri.

“Keputusan ada di tangan rakyat Iran. Melalui pemilu bebas dan referendum, mereka berhak menentukan masa depan negaranya,” tegasnya.

Ia menambahkan, apakah Iran akan kembali ke monarki atau memilih sistem lain, sepenuhnya merupakan hak rakyat Iran, bukan hasil paksaan dari pihak manapun.

Di tengah ketegangan, Iran kini berdiri di persimpangan sejarah. Gelombang protes, korban yang terus bertambah, serta tekanan internasional menjadikan masa depan negara ini semakin sulit diprediksi.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad