Gelombang penarikan diri ini terjadi setelah anggota EBU menyetujui aturan pemungutan suara yang lebih ketat, menyusul tuduhan bahwa Israel memanipulasi suara untuk menguntungkan kontestannya.

“Eurovision menjadi acara yang terbelah,” kata Paul Jordan, pakar Eurovision yang dikenal sebagai “Dr. Eurovision”.

“Slogannya ‘United by Music’, yang berarti 'Disatukan oleh Musik' tetapi kenyataannya terbelah oleh politik. Keadaannya semakin berantakan dan beracun,” sebutnya.

Kepala penyiar nasional Slovenia, RTV Slovenija, Natalija Gorscak, juga mengonfirmasi penarikan negaranya.

“Kami tidak akan ikut serta di Eurovision bila Israel ada di sana, atas nama 20.000 anak yang tewas di Gaza,” ujarnya.

Edisi ke-70 Eurovision dijadwalkan berlangsung di Wina, Austria, pada Mei 2026 mendatang, mempertemukan puluhan negara untuk memperebutkan gelar musik tahunan benua Eropa.

Meski berupaya menempatkan musik pop di atas politik, ajang ini berkali-kali terseret dinamika global seperti Rusia dikeluarkan pada 2022 setelah invasi ke Ukraina.

Perang Israel di Gaza menjadi tantangan terbesar ajang tersebut, dengan aksi protes pro-Palestina mewarnai dua kontes terakhir di Basel, Swiss, dan Malmo, Swedia.

Konflik ini juga memicu perbedaan sikap di antara lembaga penyiaran Eropa.

Austria, yang akan menjadi tuan rumah setelah kemenangan JJ dengan lagu “Wasted Love” mendukung keikutsertaan Israel.

Jerman disebut mengambil posisi serupa.

Sementara itu, Islandia, Irlandia, Belanda, Slovenia, dan Spanyol termasuk negara yang menyatakan siap menarik diri bila Israel tetap diizinkan tampil. (wartabanjar.com/berbagai sumber)

Editor: Yayu