WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rumahnya di Bintaro dijarah massa pada Minggu (31/8/2025) langsung memicu reaksi panas di media sosial. Alih-alih simpati, tak sedikit netizen justru melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan Sri Mulyani yang dianggap memberatkan rakyat. Sebelumnya, Sri Mulyani menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh dibangun dengan anarki. Ia meminta masyarakat menyalurkan ketidakpuasan melalui jalur hukum seperti judicial review ke Mahkamah Konstitusi atau proses di Mahkamah Agung. Namun pernyataan itu malah disambut sinis. Banyak warganet mengaku muak dengan kebijakan perpajakan hingga utang negara yang dianggap menambah beban hidup. BACA JUGA:HELIKOPTER PK-RGH Hilang Kontak di Tanah Bumbu, Basarnas Banjarmasin Siap Lakukan Pencarian! Netizen Balas dengan Kritik Pedas Beberapa komentar yang ramai dibicarakan antara lain: “Saya tidak membenarkan penjarahan, tapi ibu sadar nggak sih? Kebijakan ibu banyak bikin rakyat susah dan marah.” “Semoga ibu cepat turun dan dipanggil Tuhan.” “Kalau dengan cara damai emang didengerin???” “Kapan rakyat didengar soal pajak di mana-mana, Bu? Andai lebih peka.” “Mengundurkan diri itu mulia.” “Lu enak penghasilan gede, rakyat kecil kerja panas-panasan di proyek tetap kena pajak. Jangan menekan rakyat demi utang negara.” Tak hanya itu, sebagian netizen juga menyinggung isu politik dan lembaga hukum, bahkan menyindir gaya komunikasi Sri Mulyani. Dari Simpati hingga Satire Meski kritik mendominasi, ada juga komentar bernuansa satire dan keprihatinan: “Bisa-bisanya bukan koruptor yang dijarah rumahnya.” “Jangan sok-sokan bilang terbuka dan transparan kalau masih tutup rapat.” “Tahun ini adalah tahun kesadaran, Bu. Ayo sadar.” Fenomena ini menunjukkan bahwa kasus penjarahan rumah Sri Mulyani tidak sekadar persoalan kriminal, tetapi juga memicu letupan emosi publik atas kebijakan ekonomi yang dianggap menekan rakyat.(Wartabanjar.com/berbagai sumber) editor: nur muhammad