WARTABANJAR.COM, BARABAI– Setiap Minggu pagi, Taman Dwi Warna Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), tak pernah sepi dari riuh warga.
Ada yang jogging mengitari taman, ada pula yang sekadar duduk santai bersama keluarga sambil menikmati udara segar.
Di sela keramaian itu, deretan pedagang makanan ikut meramaikan suasana, menawarkan beragam jajanan untuk mengisi perut usai berolahraga.
Di depan gedung MTQ di kawasan taman, aroma gurih dari sebuah gerobak kecil kerap menggoda pengunjung.
Di sanalah Ali, perantau asal Jawa, menjajakan dagangan andalannya, yakni kentang jadul.
Camilan ini bukan sekadar gorengan biasa, tetapi jajanan legendaris yang populer sejak awal 2000-an dan dulu sering dijual di depan Sekolah Dasar (SD).
Ali mengaku telah berjualan kentang jadul sejak 2013.
“Saya belajar resepnya di Jawa, lalu merantau ke Kalimantan bersama teman-teman. Modalnya sederhana, tetapi peminatnya banyak,” ujarnya kepada wartabanjar.com, Minggu (10/8/2025).
Bahan kentang jadul ini sederhana, yaitu kentang kecil, tepung terigu, tepung tapioka, bubuk bawang putih, penyedap rasa, telur, dan air.
Adonan dicampur rata, dimasukkan ke plastik es, lalu dikukus hingga padat.
Setelah dingin, adonan dipotong-potong, digoreng, dan dibubuhi aneka bumbu seperti balado atau barbeque.
Harganya pun ramah di kantong, mulai dari Rp3.000 hingga Rp10.000, tergantung porsi dan permintaan pembeli.
Sehari-hari, Ali berjualan di sekolah-sekolah atau di acara hajatan seperti pernikahan.







