Lalat Buah Ancam Panen Hortikultura! Ini Jurus Ampuh Penyuluh DKP3 Banjarbaru Lindungi Tanaman Petani
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Serangan lalat buah kini menjadi mimpi buruk baru bagi para petani hortikultura di Banjarbaru, khususnya petani cabai. Hama ini mengintai sejak fase buah muda dan bisa menyebabkan kerusakan hingga total jika tidak dikendalikan secara cepat dan tepat.
Penyuluh pertanian dari DKP3 Banjarbaru untuk wilayah Kelurahan Syamsudin Noor, Sudarta, mengungkapkan pentingnya langkah strategis terpadu guna mengatasi serangan lalat buah yang kini makin meluas.
“Lalat buah adalah hama utama yang bisa menyebabkan kerugian sampai 100%. Buah tampak sehat di luar, padahal sudah rusak dari dalam dan mendadak busuk,” jelas Sudarta saat dikonfirmasi, Selasa (8/7/2025) sore.
BACA JUGA:Harga Cabai Tembus Rp130 Ribu! Serangan Lalat Buah Bikin Petani Banjarbaru Panik
Strategi Ampuh Tangkal Lalat Buah
Sudarta menjelaskan bahwa metode pencegahan adalah kunci utama. Salah satu strategi efektif adalah pemasangan perangkap berbasis metil eugenol, namun harus dilakukan serentak oleh seluruh petani dalam satu kawasan agar tidak menimbulkan efek balik.
“Kalau hanya satu-dua petani yang pasang, justru lalat buah dari tempat lain bisa berdatangan,” tegasnya.
Selain perangkap, ia juga menyarankan penggunaan pengusir alami seperti kapur barus yang dibungkus plastik berlubang dan digantung di antara tanaman.
“Tujuannya untuk menciptakan aroma yang tidak disukai lalat buah,” imbuhnya.
Sanitasi Kebun: Langkah Kecil, Dampak Besar
Sudarta juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lahan. Buah yang sudah membusuk jangan dibiarkan di kebun karena dapat menjadi sumber infeksi berikutnya.
“Buah busuk harus dimusnahkan, bisa disiram air panas atau dibakar, karena biasanya sudah berisi ulat atau kepompong lalat buah,” ujarnya.
Rotasi dan Tanaman Pengalih Perhatian
Langkah lain yang disarankan adalah rotasi tanaman serta tumpang sari dengan tanaman yang tidak disukai lalat buah, seperti bawang daun, kenikir, atau kemangi.
Jika semua langkah preventif tak mampu membendung serangan, barulah digunakan insektisida kimia sebagai pilihan terakhir, tentu dengan prinsip kehati-hatian dan ramah lingkungan.
“Pengendalian lalat buah tidak bisa instan. Harus dilakukan secara terpadu, berkelanjutan, dan kolektif, melibatkan seluruh petani,” tutup Sudarta.
Langkah-langkah ini diharapkan bisa menekan populasi lalat buah dan menyelamatkan panen hortikultura yang menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak petani Banjarbaru.(Wartabanjar.com/IKhsan)
editor: nur muhammad