WARTABANJAR.COM, BARABAI– Di Desa Palas, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan kisah panjang tentang dakwah, perjuangan, dan kebangkitan Islam di tanah Banua. Masjid itu dikenal sebagai Masjid Keramat Palajau, nama yang diwariskan sejak abad ke-14 dan masih melekat hingga hari ini. Konon, kawasan ini dulunya bernama Palayarum, diambil dari nama sungai besar yang berhulu di Pegunungan Meratus. Sungai Palayarum yang mengalir hingga ke pusat kerajaan Banjar kala itu, menjadi jalur utama perdagangan dan dakwah Islam. Di tepiannya, berdiri pohon besar bernama Palajau, tempat para pedagang dan dai beristirahat, yang kemudian menjadi asal nama Kampung Palajau. “Tempat ini dulunya adalah simpul penting jalur air. Sungai Palayarum jadi urat nadi antara Meratus dan pesisir. Pohon Palajau tempat orang berlabuh untuk istirahat dan berdakwah,” ujar Mahrani (43), tokoh masyarakat yang merawat sejarah masjid ini, Jumat (20/6/2025). Sekitar abad ke-14, tujuh utusan dari Kerajaan Islam Demak datang ke Banua, dipimpin oleh Malik Iberahim. Mereka adalah Imam Santoso, Habib Marwan, Mujahid Malik, Rangga Alibasah, Santeri Umar, dan Imam Bukhari. Bersama pangeran dari Kerajaan Banjar, mereka menyusuri sungai-sungai hingga menetap di Palajau untuk membangun masjid. Masjid ini disebut-sebut sebagai yang kelima dari sembilan masjid yang didirikan secara serempak di Jawa dan Kalimantan. Masjid ini memiliki 5 tiang dan tiang tengah di sebut “tiang guru” sebuah tiang utama yang tidak hanya menopang bangunan, tetapi menjadi tempat muadzin mengumandangkan azan saat belum ada pengeras suara. Di tiang ini terdapat pahatan aksara Jawa yang menandai waktu pendirian, dan lubang penyimpanan catatan silsilah ulama serta peninggalan seperti gumpalan rambut Raden Patah, keris sembilan lekuk, dan tombak segitiga. Masjid ini juga memiliki kubah dengan motif Pohon Hayat, menggambarkan filsafat hidup masyarakat lokal yang berpadu dengan nilai-nilai Islam. Di masjid ini juga ada peninggalan yaitu sumur tua yang dipagari beton. Airnya masih digunakan untuk wudu. Di samping masjid juga ada tajau atau wadah air. "Sumur ini sudah ada dari dulu, namun tetap awet dan airnya bisa dialirkan ke tajau. Air dari tajau ini sering diminta pengunjung untuk cuci muka," ujarnya. Pada masa kolonial, Masjid Keramat Palajau menjadi basis perlawanan rakyat terhadap Belanda. Sekitar tahun 1862, terjadi pertempuran di Hutan Simpur, 750 meter dari masjid, yang melibatkan pasukan Demang Lehman untuk membentengi Pangeran Hidayat. Ada cerita yang berkembang, bahwa setiap tentara Belanda yang berani mendekat ke masjid ini mengalami muntah darah secara misterius. “Masjid ini memang disakralkan sejak dulu. Bukan cuma tempat ibadah, tetapi juga basis perjuangan. Orang menyebutnya ‘keramat’ karena kisah-kisah luar biasa itu,” jelas Mahrani. Pada 1972, masjid ini mengalami pemugaran besar tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Pemerintah melalui Direktorat Kepurbakalaan juga pernah memberikan perhatian khusus, menjadikannya sebagai situs warisan budaya lokal yang harus dijaga. Tak hanya menjadi pusat ibadah, masjid ini berkembang sebagai pusat pendidikan dan musyawarah masyarakat. Sejak sebelum kemerdekaan, dari kawasan ini lahir madrasah dan pesantren, seperti Madrasah Telaga Kangkung dan Madrasah Al-Fidaa. Kegiatan keagamaan di Masjid Keramat Palajau terus berlanjut hingga kini, misalnya setiap harinya sebagai Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) dan setiap minggunya digelar pengajian umum. Masjid ini juga menjadi pusat tradisi batumbang apam, ritual syukuran yang dilakukan warga untuk bayi yang baru lahir. BACA JUGA: Bawa 2 Paket Sabu, Pria di Tanah Bumbu Diciduk Tengah Malam Anak-anak yang belum menginjak tanah, pertama kali menapakkan kaki di Masjid Keramat sebagai bentuk permohonan doa dan perlindungan dari Allah SWT. “Warga yang melaksanakan batumbang apam ingin mengambil hikmah dan berkah. Itu wujud rasa syukur kepada Allah untuk anak-anak mereka,” ujar Mahrani. Kini, Masjid Keramat Palajau bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi penanda sejarah peradaban Islam di Hulu Sungai Tengah yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Setiap lebaran, masyarakat dari berbagai daerah datang berziarah, mengenang nilai-nilai spiritual dan perjuangan yang hidup di dalamnya. “Semoga masjid ini terus dijaga dan dirawat oleh generasi muda, karena inilah bukti bahwa Islam dan perjuangan rakyat Banjar telah hidup sejak dulu di tanah Pelajau,” tutur Mahrani menutup perbincangan. (Adew) Editor: Yayu