“Quality time itu tetap ada. Kadang kita berbagi pemikiran, atau urus bisnis bareng-bareng,” jelasnya.
Meski terkadang berbeda pendapat dalam mengambil keputusan, seperti dalam hal pendidikan dan les anak-anak, mereka sepakat untuk saling menghargai.
“Keputusan kami nggak selalu sama. Misalnya dalam memilih sekolah atau les anak, tapi kita saling menghargai. Kalau anaknya suka ya sudah, nggak masalah,” tutup Tya. (yayu)
Editor: Yayu







