Mengajak Semua Anggota Tubuh Berpuasa

WARTABANJAR.COM – Puasa tidak hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami-istri dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Tetapi juga mampu mengajak semua anggota tubuh kita berpuasa dan meninggalkan perbuatan tercela. Mulai dari mata, telinga, lisan, tangan, kaki, perut, hingga hati.

Jika selama ini kita hanya fokus pada puasa perut dan kemaluan, maka sudah sepantasnya kita mengajak anggota tubuh lainnya turut berpuasa.

Terutama anggota tubuh paling penting dalam diri kita yaitu hati.

Setelah memenuhi syarat dan rukun puasa, juga menjauhi segala pembatal puasa, sebagaimana yang sudah digariskan oleh ilmu fiqih, maka selanjutnya marilah kita berusaha meningkatkan kualitasnya dengan cara memperkayanya dengan amaliah sunah, melakukan hal-hal yang dapat mencapai kesempurnaannya, dan menjauhi segala hal yang dapat membatalkan pahalanya.

Dalam kitab Ihya ‘Ulumidin, Terbitan Darul Ma’rifah, Beirut, 2012, Jilid I, hal. 234, Imam Al-Ghazali mengungkapkan, kunci meraih kesempurnaan puasa dan menjauhi pembatal pahala puasa adalah menjaga semua anggota tubuh dari perbuatan dosa, maksiat, dan sia-sia.

Berbicara anggota tubuh tentu mencakup semua organ yang kita miliki, baik yang zahir maupun yang batin, mulai dari mata, lisan, telinga, hidung, tangan, kaki, hingga hati.

Penglihatan misalnya. Pada saat berpuasa, mata pun harus diajak berpuasa dari memandang perkara-perkara yang tercela, hina, dari segala yang dapat merusak keadaan hati, juga dari segala hal yang dapat melalaikan dzikir kepada Allah SWT.

Ingatlah bahwa sejatinya penglihatan adalah salah satu panah Iblis, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Pandangan itu salah satu panah beracun milik Iblis yang dikutuk oleh Allah. Siapa saja yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Dia akan mendatangkan keimanan kepadanya sehingga akan mendapatkan manisnya keimanan dalam hatinya,” (HR. Al-Hakim).

Anggota tubuh selanjutnya yang harus diajak berpuasa adalah lisan. Pada saat berpuasa, lisan pun harus mendukung keberadaan puasa kita, bahkan sebaiknya menyempurnakan puasa.

Adapun maksud puasa lisan adalah puasa dari ucapan yang sia-sia, perkataan dusta, fitnah, kotor, kasar, termasuk senda gurau yang berlebihan yang dapat menyakitkan dan menimbulkan permusuhan dengan sesama.

Jika lisan sudah mampu diajak puasa, maka puasa sejalan dengan apa yang disampaikan Baginda Rasul SAW: “Puasa itu ibarat tameng. Maka jika salah seorang saja di antara kalian berpuasa, maka janganlah berbuat keji dan jahil. Dan jika ada orang yang memerangi atau mencelamu, maka sampaikan, ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.’” (HR Abu Dawud)

Anggota tubuh selanjutnya adalah pendengaran. Di bulan Ramadhan ini, pendengaran kita harus diajak berpuasa. Berpuasa dari mendengarkan kata-kata yang keji dan kotor.

Walau hanya mendengar, namun ingat bahwa dosanya sama dengan orang yang mengucapkannya. Demikian sebagaimana yang pernah disampaikan Rasulullah SAW : “Orang yang mengumpat dan orang mendengarkannya adalah sama-sama dalam dosanya,” (HR. Ath-Thabrani).

Selanjutnya anggota tubuh yang harus kita jaga adalah tangan dan kaki dari segala perkara yang terlarang. Tak terkecuali perut dari makanan yang syubhat apalagi yang haram pada saat sahur dan berbuka. Sebab, apa artinya berpuasa, jika kita berbuka dengan makanan yang tak halal.