Kasus Bunuh Diri Meningkat, BRIN Ungkap Gender dan Penyebab yang Terbanyak

Sehingga untuk meningkatkan kesehatan jiwa pada remaja membutuhkan dua peran penting yaitu keluarga dan sekolah.

“Remaja yang sehat itu dia engage dengan kehidupan akademik. Merasa aman secara fisik dan emosi, konsep diri dan efikasi dirinya positif, memiliki kemampuan menarik kesimpulan, dan tentu saja sehat fisik dan mentalnya,” jelas Diana.

Oleh karena itu, menurutnya sekolah harus memberikan rasa aman, belonging, juga penting untuk memberikan ekspektasi atau target-target sebagai guidance bagi remaja.

Selain tentunya memberikan dukungan, koneksi dan kesempatan.

“Sedangkan keluarga perlu melakukan regulasi perilaku dan supervisi. Modalnya adalah value yang tumbuh dalam keluarga tersebut,” imbuhnya.

Dalam kaitannya kesehatan jiwa generasi milenial dengan pandangan antroplogi agama, Peneliti Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Koeswinarno menjelaskan jarak antara agama dengan pemeluknya. Ia menyebutkan agama itu dogmatis, sementara pemeluknya rasional.

“Maka pelajaran agama yang bagus untuk generasi milenial adalah agama yang punya kekuatan rasionalitas tinggi. Dia (generasi milenial) tidak bisa dipaksakan dengan dogma-dogma tertentu,” sebutnya.

Agama juga (bersifat) membatasi, sedangkan pemeluk sekarang ingin agama yang bisa membebaskan.

Menurut Koeswinarno, agama yang akan dipercaya oleh generasi milenial adalah agama yang walaupun ada larangan, harus bisa menjelaskan sisi rasionalitasnya.