WARTABANJAR.COM - Poskes Arafah yang mulai 8 Zulhijah pukul 06.00 WAS hingga 10 Zulhijah pukul 03.00 WAS (waktu Arab Saudi) dengan 40 personil tenaga kesehatan.

Poskes Arafah telah melayani 163 jemaah haji sakit dan 18 orang dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Adapun tiga penyakit terbanyak yaitu 21 kasus pneumonia, 18 Heatstroke dan 11 demensia.

Pada operasional Poskes Arafah, terdapat 12 jemaah haji wafat yakni 4 jemaah wafat di RSAS, 7 jemaah wafat di Poskes Arafah, dan 1 jemaah wafat di tenda.

Penyebab kematian terbanyak di Poskes Arafah adalah serangan jantung.

Sedangkan Poskes Muzdalifah dimana mulai beroperasi 10 Zulhijah pukul 18.00 WAS hingga 13.45 WAS.

Baca Juga

Spesialis Pembobol Sekolah Diringkus Polisi Ketahuan Sering Lakukan ini

Untuk memberikan pelayanan kesehatan selama bermalam di Muzdalifah, telah dikerahkan 51 tenaga kesehatan di 11 pos.

Poskes Muzdalifah telah merawat 163 jemaah haji sakit dan 10 jemaah dirujuk di RSAS. Tidak ada jemaah haji meninggal selama operasional Poskes muzdalifah.

Selanjutnya Poskes Mina mulai beroperasi 10 Zulhijah pukul 18.00 WAS dan berakhir 13 Zulhijjah pukul 13.00 WAS dengan 115 personil tenaga kesehatan.

Poskes Mina telah merawat 429 jemaah haji, dan 295 jemaah dirujuk ke RSAS. Penyakit terbanyak yang ditangani Poskes Mina adalah Heatstroke sebanyak 100 kasus.

Terdapat 58 jemaah haji wafat selama operasional Poskes Mina yakni 23 jemaah haji wafat di RSAS, 4 jemaah haji wafat di Poskes, 19 Jemaah haji wafat di tenda, dan 2 jemaah haji wafat di perjalanan.

Pelayanan kesehatan lainnya yakni pos kesehatan satelit yang dioperasionalkan oleh Emergency Medical Team (EMT) sebanyak 277 deteksi dini penyakit dan 79 Emergency respon. Kasus terbanyak yang ditangani oleh pos kesehatan satelit adalah heatstroke. Tidak ada jemaah haji wafat di pos kesehatan satelit.

Kapus Liliek menyampaikan bahwa penyelenggaraan kesehatan haji di Armuzna telah berjalan dengan lancar. Beberapa kendala dalam pelayanan dapat diatasi.

Pelaksanaan tahun ini juga akan kami evaluasi sehingga bisa menjadikan pelajaran untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan kesehatan haji tahun mendatang.