Heboh di Twitter, Foto Sinar Matahari Terbelah Crepuscular Rays, Diduga Berkaitan dengan Gempa Bantul
Mereka yang tidak percaya mengatakan ini hanya fenomena alam biasa, tidak ada kaitannya dengan musibah alam apa pun seperti gempa bumi.
Netizen bernama nei*** membalas sembari menyertakan beberapa foto serupa, mengatakan bahwa fenomena alam seperti ini tak ada hubungannya dengan gempa.
Foto yang dilampirkannya itu menurutnya pemandangan langit serupa terjadi pada 21 Juli 2021 di Denpasar, Bali.
Satu jam setelahnya, menurutnya, tak terjadi gempa bumi apa pun di Bali.
Ini terjadi di bulan Juli 2021 di Denpasar.
1 jam setelah ini tau apa yg terjadi?
Ga terjadi apa-apa. Gausah jualan cocoklogi, org indo udh banyak yg gapercaya sains nanti makin banyak yg sok dukun. pic.twitter.com/92PMTHuQFmBantahan juga diutarakan oleh netizen bernama seb***.
Ia menyertakan foto penampakan langit serupa yang menurutnya difoto awal Agustus 2022 lalu di Laguna Pantai Depok, Yogyakarta.
Setelahnya, tak ada gempa apa pun terjadi.
Jare sopooooooo. Ini w videoin awal agustus tahun kemarin di laguna pantai depok jogja, sama kebelah juga tuh, gak ada hubungannya sama gempa pic.twitter.com/WUCiRBU131
Netizen bernama roi*** juga mengunggah foto serupa yang diambil pada 2016 silam.
Menurutnya, setelah itu tak ada terjadi gempa apa pun.
Foto lama tahun 2016, dan alkhamdulillah gak ada bencana apa2 pic.twitter.com/LLFVInoVmL
Penjelasan Ilmiah
Jika dijelaskan secara ilmiah, fenomena langit bergaris dan seperti terbelah ini disebut juga dengan fenomena crepuscular rays.
Dilansir dari berbagai sumber, fenomena ini adalah saat cahaya Matahari terlihat beradiasi dari satu titik tertentu.
Radiasi cahaya ini bisa terjadi karena cahaya Matahari masuk melewati celah-celah di antara awan atau objek lain.
Sinar krespukular biasanya berwarna merah dan kuning serta lebih mudah dilihat di saat pagi atau sore hari, karena pada siang hari partikel udara menyebarkan cahaya gelombang pendek (biru dan hijau) jauh lebih kuat daripada cahaya gelombang panjang (kuning dan merah). (brs/berbagai sumber)
Editor: Yayu