WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Idul Fitri erat kaitannya dengan momentum saling memaafkan. Dalam Alquran perintah untuk memaafkan dalam berbagai surah di dalamnya.

Pengulangan terkait sikap memaafkan ini, tentu memiliki rahasia dan hikmah besar bagi mereka yang mengerjakannya.

Oleh karena itu berikut 4 perintah memaafkan orang lain dalam Alquran yang perlu diketahui oleh setiap muslim.

Pertama, surah Ali Imran ayat 134, firman-Nya:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
“(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Baca Juga

Persiapan Haul ke 217 Datu Kelampayan di Dalam Pagar

Syekh Wahbah al-Zuhaily dalam bukunya Tafsir Al-Munir menerangkan bahwa apabila seseorang memaafkan orang yang berbuat buruk kepadanya, akan tetapi sebenarnya ia memiliki kemampuan untuk membalas, maka sikap ini menunjukkan kemampuan pengendalian diri.

Ia mampu mengasah kebijaksanaan dalam berpikir serta memiliki karakter yang kuat. Menurut Syekh al-Zuhaily, sikap tersebut lebih baik dari pada seseorang yang mampu menahan amarahnya saja.

Kedua, surah al-A’raf ayat 199, firman-Nya:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

“Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.”

Dalam Tafsir al-Misbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan kata (خُذ) yang berarti ambillah bermakna memperoleh sesuatu untuk digunakan agar memberi mudarat. Sedangkan dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada manusia dengan kata tersebut agar mereka memilih memaafkan kesalahan orang lain dibandingkan dengan membalas atau bahkan berbuat buruk lebih dari yang pelaku perbuat kepada mereka.

Selanjutnya, kata “ambillah” dari ayat ini mengandung makna sepenuh hati. Kata berikutnya adalah (الْعَفْو) yang berarti maaf dan terdiri dari tiga huruf yaitu ‘ain, fa, dan wau.

Prof. Quraish menjelaskan bahwa susunan kata ini mengandung 2 kemungkinan makna yaitu meninggalkan sesuatu dan memintanya. Sehingga dapat dipahami bahwa apabila seseorang telah memaafkan kesalahan orang lain, berarti Ia benar-benar meninggalkan (menghapus atau melupakan) kesalahan orang tersebut.

Ketiga, surah as-Syura ayat 37, firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ ۚ