Lalu, apakah ada yang salah di sini? Kenapa media massa begitu kecil dalam menyebarkan informasi imunisasi anak yang aman selama pandemi?

Bagi sebuah media, ada beberapa pertimbangan dalam menentukan sebuah berita apakah layak tayang atau tidak. Tak dipungkiri, kebanyakan media massa tetaplah lebih memprioritaskan berita yang menarik perhatian publik (pembaca).
Topik tentang imunisasi anak dianggap kurang menarik, sehingga porsinya kecil. Kalaupun mendapat prioritas dan sorotan, biasanya bersifat tragedi. Misalnya balita mengalami sakit atau kematian akibat imunisasi. Atau mungkin balita mengalami gejala COVID-19 setelah mengkuti imunisasi di faskes umum. Padahal angka kasusnya sangat kecil.

Itu tidaklah salah. Namun, sudah saatnya media massa dalam hal ini jurnalis makin peran dan mengubah pola pikir, dengan lebih mempertimbangkan sisi manfaat bagi masyarakat. Bukan sekadar mengejar jumlah pembaca atau rating.

Mengulas cerita tentang dampak dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi difteri, tetanus, campak, rubela, polio, dan lain-lain, ini tentunya sangat bermanfaat untuk membuka wawasan sekaligus menyadarkkan orangtua agar mau membawa anaknya ke faskes imunisasi.

Terlebih di masa pandemi COVID-19. Diperlukan ulasan tentang bagaimana orangtua bisa tetap mendapatkan imunisasi untuk anaknya secara aman. Ulasan tentang protokol kesehatan seperti apa yang harus dipatuhi agar anak bisa tetap menjalani imunisasi secara aman dan sehat. Atau menyajikan data dan fakta tentang faskes umum yang telah menerapkan protokol kesehatan.

Di sinilah media perlu mengambil peran. Secara nilai berita memang tidaklah terlalu tinggi pembacanya, namun dari sisi manfaat bagi masyarakat tentunya besar.

Meski demikian, tidak bisa juga 'menunjuk hidung' media massa kurang berperan dalam menyebarkan informasi tentang imunisasi anak selama pandemi, dan lebih mementingkan berita yang lebih menjual.

Tidak menutup kemungkinan minimnya peran media massa ini, lantaran kurangnya pemahaman terhadap topik tentang imunisasi anak, yang akan diangkat sebagai berita.