Dengan semakin menjauhnya sistem Siklon Nyatoh dan Bibit 94W dari wilayah Indonesia, tambah Dwikorita, maka kondisi tersebut membuka peluang terhadap peningkatan fenomena dinamika atmosfer lainnya, yaitu meningkatnya aliran massa udara yang cukup intens dari wilayah Laut China Selatan ke arah selatan memasuki wilayah atmosfer Indonesia, dimana kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang dapat menimbulkan kejadian curah hujan tinggi di wilayah Indonesia.

"Waspada bencana hidrometeorologi yang kemungkinan menyertainya. Mulai dari banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan sebagainya," imbuhnya.

BMKG menyebut bahwa kejadian gempa bumi dan tsunami belum dapat diprediksi. Namun, hal tersebut dapat dimodelkan potensi bahayanya dengan menggunakan skenario terburuk untuk acuan mitigasi.

"Dalam hal ini BMKG sudah memetakan tingkat bahaya sebagian besar pantai rawan tsunami di Indonesia," jelasnya.

Tsunami Cilegon

BMKG lantas angkat bicara perihal pemberitaan di media nasional mengenai potensi tsunami yang terjadi di Cilegon.

"Dalam hal ini, BMKG tidak bermaksud memberikan prediksi bahwa akan terjadi tsunami selama periode Natal 2021 dan Tahun 2022,"

"Cilegon hanya sebagai contoh, salah satu wilayah yang rawan dan memiliki potensi tsunami seperti halnya wilayah lain di Indonesia yang memiliki potensi dan catatan sejarah tsunami," jelasnya.

BMKG menegaskan bahwa gempa bumi dan tsunami dapat terjadi kapan saja dan d mana saja. Namun, bencana tersebut tidak dapat dipastikan atau diprediksi dengan tepat kapan akan terjadi.

"Catatan katalog tsunami BMKG menunjukkan bahwa di wilayah Indonesia sejak tahun 1608 sudah terjadi tsunami lebih dari 246 kali sehingga kita semua patut waspada," jelasnya.

BMKG juga mengimbau kepada seluruh pemangku kepentingan terkait untuk memonitor perkembangan cuaca, iklim, dan gempa bumi serta peringatan dini kondisi ekstrem dari BMKG.

"Perlu dipastikan bahwa informasi terkait kondisi Meteorologi, Klimatologi, Gempabumi, dan Tsunami dapat diakses ataupun diterima dengan cepat dan dipahami oleh operator transportasi, para stakeholder, sektor terkait, dan masyarakat," katanya.