Menurutnya, hampir 80 persen masyarakatnya adalah petani dan pekebun. “Jadi akses jembatan itu sangat vital sebagai jalan menuju mereka berangkat dan mengangkut hasil pertanian maupun perkebunan,” katanya.
Ia mengatakan, sebenarnya warga bisa saja menggunakan sepeda motor ke kebun melalui jalan Hantakan, namun harus memutar jauh, belum lagi menuju titik kebun yang berada di dalam hutan.
“Pemerintahan desa saat ini masih belum memiliki dana untuk perbaikan jembatan yang rusak. Karena diperlukan banyak bahan untuk mengganti segala material pembangunan jembatan tersebut,” tuntasnya. (ant)
Editor: Erna Djedi







