Lebih dari 125 Ribu Guru Penentang Kudeta Militer Myanmar Diskors, Orangtua pun Enggan Sekolahkan Anak
Mahasiswa yang berada di garis depan protes harian yang menewaskan ratusan orang oleh pasukan keamanan juga mengatakan mereka berencana untuk memboikot kelas.
"Saya hanya akan kembali ke sekolah jika kita mendapatkan kembali demokrasi," kata Lwin (18).
Sistem pendidikan Myanmar sudah menjadi salah satu yang termiskin di kawasan itu, menduduki peringkat 92 dari 93 negara dalam survei global tahun lalu, bahkan di bawah kepemimpinan Suu Kyi yang telah memperjuangkan pendidikan, pengeluaran di sektor ini di bawah 2% dari produk domestik bruto.
Itu adalah salah satu tingkat terendah di dunia, menurut angka Bank Dunia.
Pemerintah Persatuan Nasional yang didirikan oleh penentang junta militer, mengatakan akan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mendukung guru dan siswa serta menyerukan kepada donor asing untuk berhenti mendanai kementerian pendidikan yang dikendalikan junta.
"Kami akan bekerja dengan para pendidik Myanmar yang menolak mendukung militer yang kejam. Para guru hebat dan guru-guru pemberani ini tidak akan pernah ditinggalkan," kata Sasa, juru bicara pemerintah persatuan nasional dalam email kepada Reuters. (ant)
Editor: Yayu Fathilal