Kisah Kontestan Myanmar Serukan Protes Kudeta Militer dan Perjuangan Rakyat Myanmar di Miss Universe 2020
Ia melihat laporan tentang orang-orang terkenal yang ditahan ketika mereka mencoba meninggalkan negara itu, jadi ia memutuskan untuk mengenakan hoodie dan kacamata agar tidak dikenali di bandara Yangon.
"Saya harus melewati imigrasi dan saya sangat takut," ujarnya.
Dalam mengkritik junta militer dari luar negaranya, Miss Universe Myanmar tidak sendirian.
U Win Htet Oo, salah satu perenang terbaik negara itu, mengatakan dari Australia bahwa ia melepaskan mimpinya untuk pergi ke Olimpiade dan tidak akan bersaing di bawah bendera Myanmar sampai pemimpin rezim, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, disingkirkan dari kekuasaan.
Selain itu, petarung seni bela diri campuran, U Aung La Nsang, seorang warga negara Amerika dan salah satu atlet paling terkenal di Myanmar, telah mendesak Presiden Joe Biden untuk membantu mengakhiri penderitaan rakyat Myanmar.
Ma Thuzar Wint Lwin mengatakan ia percaya bahwa tidak akan aman baginya untuk kembali ke Myanmar setelah berbicara menentang rezim di ajang internasional.
Kini ia tidak tahu ke mana akan pergi setelah kontes berakhir.
Mahasiswi jurusan Bahasa Inggris di East Yangon University ini mengenal gerakan pro-demokrasi sejak kecil.
Ia dibesarkan di keluarga kelas menengah, di mana ayahnya seorang pengusaha dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang tidak berani membicarakan pemerintahan militer yang sedang berkuasa.

Salah satu kenangan awalnya adalah berjalan dengan ibunya di dekat Pagoda Sule di pusat kota Yangon pada tahun 2007, ketika para biksu memimpin protes nasional menentang kekuasaan militer.
Kala itu ia berusia 7 tahun.
Saat mereka mendekati pagoda, tentara membubarkan protes dengan menembakkan senjata mereka ke udara.
Orang-orang mulai berlari.
Ia dan ibunya juga ikut lari.
"Kami sangat takut. Kami pergi ke rumah orang asing dan kami bersembunyi," katanya.